Yayasan Pendidikan Unik, Bayar Uang Sekolah Pakai Tunas Pisang, Kok Bisa?

SUMENEP, Kamis (27/12/2018) suaraindonesia-news.com — Sebuah gagasan yang super unik mengilhami pendirian Madrasah Diniyah dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), letaknya di pedalaman salah satu Desa yang masuk dalam teritorial Kepulauan Kangean yang masuk Kabupaten Sumenep, tepatnya di kampung yang beralamat di Jalan La’na Alas Dusun Aer Betang Desa Angkatan, Kecamatan Arjasa yang diberi nama Yayasan AS-SAMARQANDI.

Madrasah Diniyah dan PAUD ini berjalan sudah duat tahun lalu, namun Yayasannya baru didaftarkan atau diresmikan sekitar satu tahun yang lalu.

Keunikan Lembaga ini adalah baik Madrasah Diniyah dan PAUD nya para wali murid tidak ditarik biaya berupa uang tunai, namun para orang tua hanya disuruh menanam bibit atau tunas pohon Pisang yang disediakan lahannya oleh Yayasan dan dititipi satu atau dua ekor Ayam untuk dipelihara pada setiap orang tua murid, sehingga ketika berkembang-biak menjadi lebih banyak, nantinya Ayam itu diberikan kepada Yayasan sebagai pengganti bayaran uang sekolah, begitu juga Pisangnya seperti yang disampaikan oleh Kertua Yayasan As-Samarqandi Bapak Gassing Harahab Hari ini, Kamis (27/12/2018).

“Dalam yayasan ini ada dua produk, Madrasah Diniyah dan PAUD, dimana kami tidak pernah menarik bayaran uang sekolah itu dengan uang, tapi bagaimana kami menerapkan pola lain, semisal para orang tua murid, saya bebani untuk memelihara Ayam yang nantinya kalau menjadi banyak itu diberikan kepada yayasan kembali sebagai penggantinya, dan nanti itu kami jual untuk gaji para pengajar,” katanya.

Pak Gassing yang akrab dipanggil ini melanjutkan, bahwa pola ini bukan tidak ada dasarnya, karena selain kita mengindetifikasi pendapatan warga setempat yang notabeni mayoritas petani yang pasti minim, juga merangsang bagaimana masyarakat kreatif dan membuatnya lebih maju.

Kenapa? Karena secara tidak langsung nantinya warga atau wali murid bisa memetik pelajaran yang bisa dijadikan sebagai modal dalam usahanya, sehingga pendapatnnya lebih meningkat.

“Rata-rata pendapatan warga disini kecil, maka dengan kami rangsang dengan pola menanam Pisang dan memelihara Ayam, maka mereka tersadarkan bahwa ada cara yang dapat dijalankan sebagai nilai ekonomi, dan akhirnya warga bisa berbondong-bondong dalam menata usaha, seperti beternak atau menanam untuk dijadikan sumber pendapatan,” terangnya.

Masih kata Gassing yang juga sebagai Ketua Forum Silaturrahmi Masyarakat Desa Angkatan, bahwa saat ini warga lebih cenderung meninggalkan dan berangkat keluar Negeri untuk mencukupi hajat hidupnya, padahal dikampung sendiri lahan pekerjaan banyak, namun butuh ketelatenan, kesabaran dan kreativitas sehingga menjadi penentu dalam meningkatkan perekonomianya.

“Jadi secara jelas tujuan dari pola ini, bahwa selain mencerdaskan generasi anak didik kita, kususnya dikampung ini juga bagaimana mencetak pengusaha-pengusaha baru yang dimulai dari kelompok wali murid, sehingga Desa kami kedepan menjadi pusat ekonomi diwilayah Kangean, serta akan melahirkan sumber manusia yang handal bagi anak yang didiknya,” imbuhnya.

Awal pendiriannya dimulai dari 13 (tiga belas) murid saja untuk Diniyah dan 14 (empat belas) untuk PAUD dengan guru yang dimiliki hanya 5 (lima) orang, setelah berjalan 2 (dua) tahun, kini para muridnya kian bertambah begitu juga gurunya saat ini berjumpah 8 (delapan) orang, dan itu dilakukan atas dedikasi, kesabaran dan kerja kolektif, baik dari pengurus Yayasan, Tenaga Pendidik, maupun wali murid serta dukungan masyarakat sekitar.

Gassing yang alumnus dari salah satu Pondok ternama di Situbondo-Jawa Timur ini membuat Yayasan karena terinspirasi oleh keadaan, dimana selalu orang Desa yang jauh dari kota tentu dalam hidupnya terkesan tersisihkan.

Itu dikarenakan dalam kegiatannya hanya berfokus dengan menanam padi, apalagi diwilayah itu tadah hujan, jadi kalau tidak musim hujan, maka kegiatan perekonomian warga seakan mati kalau musim kemarau, makanya dengan dirangsang untuk berbuat yang lain yang mempunyai nilai ekonomis, tentu akan menjadikan warga atau wali murid menjadi lebih produktif, serta akan menjadi rujukan dalam hidupnya bagi peserta didik.

Lebih lanjut dalam bincang santai dengan Ketua Yayasan, duduk disampingnya seorang pemuda yang berbadan tegap yang setia mendengarkan perbincangan kami sembari sesekali minum teh yang ada dimeja, tak luput dari pertanyaan Tim dari Suara Indonesia News, ternyata beliau adalah salah satu guru pengajar yang menyebut dirinya Bapak Sadikin, S.Pd.

Dirinya menyebutkan Yayasan As-Samarqandi bentuk anti-tesa dari yayasan pendidikan lainnya, dimana diketahui selain kita medidik anak-anak, juga mendekatkan mereka kepada Alam, yang dibantu oleh orang tuanya semisal menanam pohon Pisang diarea Yayasan ini.

“Yayasan Pendidikan ini lain dari yang kebanyakan, dimana kegiatannya berbasis nilai Agama dan Alam,” katanya.

Selain itu juga Pak Sadikin menjelaskan, kedepannya nanti dirinya bersama tim lebih giat lagi melakukan inovasi kepada para muridnya, juga terhadap para orang tua murid, yang sekarang hanya disuruh memelihara Ayam dan menanam pohon Pisang, nanti bisa saja menanam pohon yang lain, yang tentu bernilai ekonomis sebagai ganti agar Yayasan ini berjalan sehat.

Selain itu juga akan memantik warga sekitar untuk mencintai kelestarian Alam, karena ini mempengaruhi terhadap kemakmuran warga untuk hidup lebih sehat.

“Kita selalu berinovasi, dimana sesungguhnya tidak melulu dalam Yayasan kami mengajari anak didik tentang ilmu, tapi juga secara nyata memberi pesan agar hidup itu selalu menjaga kelestarian Alam,” imbuhnya.

Ketika ditanya gaji dalam setiap mengajar, Pak Sadikin hanya senyum tipis sembari mengatakan itu tidak penting dijawab maupun dipublis, karena dia mengajar dari awal di Yayasan itu tidak semata mengharap gaji, tapi mengaktualisasikan potensi atau keilmuan yang dirinya miliki untuk amal, apalagi sampai bisa sukses mangantarkan para peserta didiknya menjadi orang besar di Negeri ini nanti, itu sudah lebih dari cukup dan sebuah keistimawaan.

“Emmm… gaji ada dan cukup, kan ngambilnya dari Ketua Yayasan jual Pisang dan Ayam,” tutupnya.

Apalagi polana yang diterapkan oleh Yayasan, sesungguhnya juga sebagai media dalam menarik wali murid dan warga sekitar dalam proses kemajuan pembangun Yayasan kedepan, sehingga hasilnya otomatis lebih berkesan, lain dari itu digedung yang serba sederhana dan sarana-prasarana seadanya Pak Sadikin optimis tidak meghalangi langkahnya untuk mendidik muridnya agar menjadi orang yang cerdas dan bisa bermamfaat bagi Agama, Bangsa dan Negara.

Reporter : Hasan
Editor : Agira
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here