ACEH TIMUR, Kamis (23/7) suaraindonesia-news.com – Keterbatasan ekonomi memaksa Riski Ramadhan, lulusan SMP Negeri 1 Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, mengurungkan niat melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA).
Riski merupakan anak sulung dari Rusdi (45), yang juga dikenal dengan sapaan Pak India, seorang mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setelah lulus pada 2026, ia belum dapat melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga yang dinilai tidak memungkinkan.
Di rumah sederhana yang kini ditempati keluarganya, seragam kelulusan SMP milik Riski masih tergantung di dinding. Namun, menurut keluarganya, keterbatasan biaya membuatnya hanya bisa menyaksikan teman-teman seusianya melanjutkan sekolah.
Rusdi mengaku saat ini sudah tidak mampu bekerja secara maksimal. Mantan tukang bangunan itu mengatakan kondisi kesehatannya yang menurun membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Jangankan untuk biaya sekolah Riski, untuk makan kami sehari saja susah. Seringkali sehari kami hanya makan sekali,” ujar Rusdi.
Kondisi keluarga tersebut semakin berat setelah sekitar enam bulan lalu istrinya, Marlina, mengajukan gugatan cerai dan kemudian menikah dengan pria lain. Menurut Rusdi, perpisahan itu dipicu oleh persoalan ekonomi keluarga dan adanya pihak ketiga.
Akibat kondisi tersebut, anak keduanya, Riska Ramadhani, yang sebelumnya menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren, memutuskan pulang ke rumah untuk membantu mengurus adik-adiknya.
Rusdi mengatakan, Riska kini menggantikan peran ibunya dalam merawat tiga adiknya, yakni Muhammad Saddam, Mulia Ananda, dan Raysa Adelia.
“Riska terpaksa pulang. Di rumah ini tidak ada lagi yang mengurus adik-adik kalau bukan dia,” katanya.
Selain menghadapi persoalan ekonomi, keluarga itu juga kehilangan rumah akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025. Saat ini Rusdi bersama enam anaknya tinggal menumpang di rumah ibunya yang berada di Dusun Gelugur, Desa Paya Demam Dua, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.
Rusdi mengaku kondisi tersebut membuatnya tidak lagi memiliki tempat tinggal sendiri maupun sumber penghasilan yang memadai untuk membiayai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak-anaknya.
Sebagai mantan kombatan GAM, Rusdi mengaku pernah berharap anak-anaknya dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan. Namun, keterbatasan ekonomi membuat harapan tersebut belum dapat terwujud.
“Kami sudah berjuang dulu demi tanah ini. Tapi sekarang siapa yang mau peduli pada nasib anak-anak kami?” ujarnya.
Kisah keluarga Rusdi menggambarkan tantangan yang masih dihadapi sebagian masyarakat dalam mengakses pendidikan akibat faktor ekonomi. Mereka berharap ada perhatian dari pihak terkait agar anak-anak yang mengalami kondisi serupa tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.












