ACEH TIMUR, Sabtu (18/07) suaraindonesia-news.com – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Lingkar Alam, Desa Rambong Lop, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, pasangan suami istri Munawir Saputra dan Mawarni menjalani hari-hari penuh perjuangan merawat putra mereka, Hasanuddin, yang mengidap epilepsi disertai gangguan fungsi saraf dan kejiwaan.
Hasanuddin merupakan anak kembar Akbaruddin. Di usia lima tahun, keduanya seharusnya memulai pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Namun, kondisi kesehatan Hasanuddin membuatnya belum dapat mengikuti kegiatan belajar bersama saudara kembarnya.
Menurut Mawarni, kondisi putranya mulai memburuk sekitar satu setengah tahun terakhir. Ia mengatakan frekuensi kejang meningkat setelah banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
“Setiap hari kejangnya datang 10 sampai 20 kali. Tubuhnya menegang kaku, matanya melirik ke atas, lalu badannya lemas seketika,” ujar Mawarni.
Ia menambahkan, kondisi anaknya kini semakin memprihatinkan.
“Sekarang matanya sudah kabur, bicara pun tak jelas lagi. Duduk tegak saja susah, apalagi berjalan seperti anak lain seumurnya,” katanya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Zubir Mahmud Idi Rayeuk, Hasanuddin didiagnosis menderita epilepsi yang disertai gangguan fungsi saraf dan kejiwaan. Pihak rumah sakit telah menyarankan agar Hasanuddin dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Namun hingga kini, keluarga belum dapat memenuhi anjuran tersebut karena keterbatasan ekonomi.
Mawarni menjelaskan, suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan sudah tidak lagi mampu bekerja setelah mengalami pembengkakan jantung dan paru-paru selama sekitar dua bulan terakhir.
“Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Menjual apa yang bisa dijual, meminjam ke sanak saudara. Tapi uang untuk berobat ke Banda Aceh, untuk biaya perjalanan dan tinggal di sana, kami benar-benar tak punya,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Hasanuddin belum dapat memperoleh penanganan medis lanjutan yang direkomendasikan dokter.
Di saat Akbaruddin mulai memasuki dunia pendidikan, Hasanuddin masih harus menjalani hari-harinya di rumah dalam kondisi fisik yang lemah.
Meski demikian, keluarga tetap berharap ada bantuan yang dapat meringankan beban mereka sehingga Hasanuddin bisa mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
“Apa daya kami selain berdoa dan berharap. Kami ingin anak kami selamat, ingin dia punya masa depan. Biar dia bisa seperti anak-anak lain, bisa sekolah, bisa tumbuh sehat,” ujar Mawarni.
Kisah Hasanuddin menggambarkan tantangan yang dihadapi sebagian keluarga di daerah dalam memperoleh akses layanan kesehatan lanjutan akibat keterbatasan ekonomi. Keluarga berharap adanya perhatian dan dukungan dari pihak-pihak yang dapat membantu proses pengobatan Hasanuddin agar ia memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menjalani pendidikan seperti anak-anak seusianya.












