exodus
BeritaNewsPendidikan

Warga Desak Penggantian Kepala SMP Negeri Kuala Simpang Ulim, Keluhkan Kondisi Sekolah Kian Terpuruk

×

Warga Desak Penggantian Kepala SMP Negeri Kuala Simpang Ulim, Keluhkan Kondisi Sekolah Kian Terpuruk

Sebarkan artikel ini
IMG 20260718 182833
Foto: Gedung SMP Negeri Kuala Simpang Ulim yang terkesan tampak kumuh.

ACEH TIMUR, Sabtu (18/07) suaraindonesia-news.com – Sejumlah warga dan wali murid di Desa Kuala Simpang Ulim, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Aceh Timur segera melakukan evaluasi dan mengganti Kepala SMP Negeri Kuala Simpang Ulim, Mansur Harun.

Desakan tersebut muncul karena masyarakat menilai kondisi sekolah selama empat tahun terakhir tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Warga bahkan mengkhawatirkan keberlangsungan sekolah yang dinilai semakin terpuruk.

Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, selama kepemimpinan Mansur Harun, sekolah dinilai mengalami kemunduran.

“Selama dia menjabat kepala sekolah, SMP Negeri Kuala Simpang Ulim bukan makin membaik, tapi makin terpuruk bahkan terancam tutup,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, kedisiplinan dan kepedulian kepala sekolah menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan. Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini berdampak terhadap proses belajar mengajar dan perkembangan peserta didik.

“Gara-gara kepala sekolah yang tidak disiplin, bukan hanya sekolah terpuruk, anak-anak juga makin tertinggal pelajarannya,” katanya.

Warga berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur dapat segera mengambil langkah dengan menempatkan kepala sekolah yang dinilai memiliki kemampuan manajerial, dedikasi, serta kepedulian terhadap kemajuan pendidikan.

“Kami berharap Plt Kadisdikbud dapat menempatkan kepala sekolah yang baru, yang lebih cakap dan peduli terhadap kemajuan pendidikan di sini,” tambahnya.

Sebelumnya, suaraindonesia-news.com telah memberitakan keluhan masyarakat terkait kinerja Kepala SMP Negeri Kuala Simpang Ulim yang dinilai jarang berada di sekolah. Warga mengaku khawatir kondisi tersebut berdampak terhadap proses belajar mengajar hingga keberlangsungan sekolah.

Seorang warga yang identitasnya dirahasiakan mengaku kepala sekolah disebut hanya sesekali hadir di sekolah dan kondisi tersebut, menurutnya, telah berlangsung cukup lama.

“Jarang sekali beliau masuk sekolah. Kalau pun ada, mungkin hanya sebulan sekali. Bahkan kepala sekolah tersebut tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat maupun dengan Pemerintah Gampong,” ujarnya.

Warga juga menyampaikan kekhawatiran apabila kondisi tersebut terus berlanjut karena dapat mengancam keberadaan sekolah.

“Kami masyarakat tentu sangat khawatir jika sekolah ini sampai bubar. Untuk menyekolahkan anak ke tempat lain sangat sulit, terutama terkendala biaya dan jarak tempuh. Beliau tidak tahu betapa susah payahnya kami memperjuangkan berdirinya sekolah tersebut,” katanya.

Selain itu, masyarakat mempertanyakan efektivitas pengawasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur terhadap kondisi yang terjadi di sekolah tersebut.

“Kondisi ini sudah berlangsung lama. Apakah ini luput dari pengawasan dinas? Atau mereka hanya mengawasi dari atas meja dan tidak pernah turun ke lokasi?” ujar warga.

Menanggapi tudingan tersebut, Kepala SMP Negeri Kuala Simpang Ulim, Mansur Harun, sebelumnya telah membantah dirinya jarang hadir di sekolah. Saat ditemui di Lhoknibong pada Kamis (16/7/2026), ia menyatakan tudingan tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

“Kalau hanya satu atau dua warga yang menyampaikan informasi tersebut, bisa jadi itu karena sentimen pribadi. Kecuali ada 50 persen lebih masyarakat yang menyampaikannya, saya ingin dipertemukan dengan warga yang menyampaikan hal itu,” kata Mansur.

Ia menjelaskan tetap menjalankan tugas sebagai kepala sekolah secara rutin. Apabila tidak berada di sekolah, menurutnya hal itu karena menghadiri kegiatan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, seperti rapat maupun penyampaian laporan.

“Sebagai kepala sekolah tidak harus setiap hari kerja berada di sekolah, karena sudah ada pembagian tugas masing-masing. Apalagi jika ada urusan yang harus diselesaikan di Kantor Dinas, seperti rapat dan penyampaian laporan,” jelasnya.

Terkait anggapan kurang berinteraksi dengan masyarakat, Mansur mengakui hal tersebut. Ia menyebut kondisi itu dipengaruhi situasi di sekolah yang seluruh tenaga pengajarnya merupakan perempuan.

“Jadi saya enggan nongkrong di warung kopi karena tidak ada guru laki-laki, sebab seluruh guru di sini perempuan,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur terkait desakan warga untuk melakukan pergantian kepala sekolah maupun langkah evaluasi terhadap kondisi SMP Negeri Kuala Simpang Ulim.