Oleh: Muhsi Ramadani
Antara Pemerintah, Pengusaha, dan Petani yang Terus Berjuang Sendiri
Petani tembakau di Madura, Temanggung, Lombok dan daerah penghasil tembakau lainnya sebenarnya tidak banyak meminta.
Mereka hanya ingin satu hal sederhana: hasil panennya dihargai dengan layak.
Setiap musim tanam, petani mengeluarkan modal, tenaga dan waktu. Mereka membeli bibit, pupuk, obat, membayar tenaga kerja, merawat tanaman berbulan-bulan, bahkan berutang untuk memastikan tanaman tetap hidup.
Namun ketika panen tiba, persoalan baru muncul.
Harga.
Di sinilah petani sering berada dalam posisi yang serba sulit.
Di satu sisi ada pemerintah dengan berbagai program perlindungan petani. Di sisi lain ada pengusaha atau gudang tembakau yang datang membawa uang dan langsung membeli hasil panen.
Lalu muncul pertanyaan sederhana:
Siapa sebenarnya yang paling menyelamatkan petani?
Pemerintah: Hadir Dengan Program
Pemerintah tentu punya peran penting.
Ada subsidi pupuk, bantuan pertanian, program perlindungan petani, regulasi tata niaga, hingga berbagai kebijakan untuk menjaga produksi dan pendapatan petani.
Di atas kertas, semuanya terlihat bagus.
Tetapi petani tidak hidup di atas kertas.
Petani hidup di sawah.
Ketika pupuk sulit didapat saat dibutuhkan, ketika biaya produksi naik, atau ketika harga tembakau turun saat panen raya, petani tidak bisa membayar kebutuhan rumah tangga dengan program dan janji.
Mereka membutuhkan harga yang nyata dan pasar yang nyata.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya hadir ketika membagikan bantuan.
Pemerintah juga harus hadir ketika petani menjual hasil panennya.
Pengusaha: Uangnya Terasa Langsung
Di sisi lain, ada pengusaha tembakau.
Bagi sebagian petani, kehadiran pengusaha terasa lebih cepat.
Tembakau datang, ditimbang, dinilai, lalu uang dibayar.
Tidak perlu menunggu program. Tidak perlu menunggu birokrasi panjang.
Bahkan dalam praktiknya, ada pengusaha yang memberikan modal kepada petani sebelum musim tanam.
Bagi petani yang sedang membutuhkan biaya sekolah anak, membayar utang, membeli pupuk atau memenuhi kebutuhan keluarga, bantuan seperti itu tentu sangat berarti.
Tetapi kita juga harus jujur.
Hubungan seperti ini tidak selalu membuat petani menjadi kuat.
Kalau modal diberikan dengan hubungan utang dan hasil panen harus kembali kepada pembeli tertentu, petani bisa kehilangan ruang untuk memilih.
Ketika harga ditentukan oleh pihak yang lebih kuat, petani akhirnya hanya bisa menerima.
Hari ini mendapatkan modal.
Besok menjual hasil panen.
Tahun berikutnya mengulang lagi.
Begitu terus.
Juragan Makin Besar, Petani Kok Masih Begitu-begitu Saja?
Ini pertanyaan yang sebenarnya layak direnungkan.
Bukan untuk menyalahkan pengusaha.
Pengusaha juga punya risiko, modal, biaya gudang, tenaga kerja dan pasar yang harus mereka tanggung.
Tetapi kita juga harus bertanya:
Kalau perdagangan tembakau terus berkembang, mengapa posisi tawar petani tidak ikut berkembang?
Mengapa petani masih sering menjual sendiri-sendiri?
Mengapa petani belum memiliki kekuatan bersama untuk menyimpan, memilah, mengolah dan menjual hasilnya?
Di sinilah masalah sebenarnya.
Bukan sekadar siapa yang membeli tembakau.
Tetapi siapa yang memegang kendali dalam rantai perdagangan tembakau.
Petani Jangan Selamanya Menjadi Penjual Bahan Mentah
Petani sebenarnya memiliki kekuatan.
Jumlah mereka banyak.
Produksinya besar.
Tetapi kekuatan itu sering hilang karena petani berjalan sendiri-sendiri.
Bayangkan kalau petani memiliki koperasi yang benar-benar hidup.
Tembakau dikumpulkan.
Kualitasnya dipilah.
Harga dibuka secara transparan.
Petani memiliki tempat penyimpanan.
Bahkan kalau memungkinkan, hasil tembakau bisa diolah lebih jauh.
Dengan begitu, petani tidak selalu berada di posisi:
“Berapa harga yang diberikan pembeli?”
Tetapi bisa mulai bertanya:
“Berapa harga yang pantas untuk hasil produksi kami?”
Itulah perubahan yang paling penting.
Jadi, Siapa Penyelamat Petani?
Mungkin pertanyaannya memang tidak tepat kalau hanya meminta kita memilih antara pemerintah atau pengusaha.
Karena petani tidak membutuhkan seorang penyelamat.
Petani membutuhkan sistem yang membuat mereka mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Pemerintah harus menjadi wasit yang adil.
Pengusaha harus menjadi mitra yang sehat.
Dan petani harus diperkuat agar memiliki posisi tawar.
Pemerintah jangan hanya hadir ketika ada pembagian bantuan.
Pengusaha jangan hanya hadir ketika membutuhkan tembakau.
Dan petani jangan terus dibiarkan berjalan sendirian.
Karena kesejahteraan petani bukan soal siapa yang paling banyak memberi.
Kesejahteraan petani adalah ketika petani memiliki kekuatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Selama petani masih terpaksa menjual karena kebutuhan mendesak, selama itu pula posisi tawarnya lemah.
Maka pekerjaan terbesar kita bukan mencari siapa yang paling pantas disebut “penyelamat petani”.
Tetapi membangun sistem agar suatu hari nanti petani tidak perlu lagi mencari penyelamat.
Karena petani yang kuat bukan petani yang setiap musim menunggu bantuan.
Petani yang kuat adalah petani yang mampu menentukan harga, menguasai pasar, dan berdiri di atas kakinya sendiri.












