ACEH TIMUR, Jumat (18/09) suaraindonesia-news.com – Lembaga sosial Acheh Future mendesak Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh untuk segera menyalurkan ribuan Kitab Kuning yang disebut telah selesai pengadaannya, namun hingga kini belum disalurkan kepada para santri.
Desakan tersebut disampaikan Ketua Acheh Future, Razali Yusuf, usai menyerahkan secara simbolis Kitab Kuning Al-Mahalli dan Ihya Ulumuddin kepada Muhammad Reza Fahlevi (19), seorang santri korban banjir asal Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Kamis (17/9/2026).
Menurut Razali, penyaluran kitab yang dikelola di lingkungan Badan Pendidikan Dayah Aceh perlu segera dilakukan, terutama bagi santri dari keluarga kurang mampu dan anak yatim yang disebut mengalami keterbatasan untuk membeli kitab pelajaran.
“Penyaluran kitab-kitab yang dikelola di lingkungan Badan Dayah Aceh harus segera dilaksanakan. Banyak santri dari keluarga kurang mampu dan anak yatim tidak memiliki kitab pelajaran, hanya karena tidak sanggup membelinya,” ujar Razali.
Ia menilai penundaan penyaluran bantuan tersebut dapat berdampak terhadap santri yang membutuhkan kitab sebagai salah satu penunjang proses belajar mengajar di dayah.
Berdasarkan data yang disampaikan Acheh Future, Dinas Pendidikan Dayah Aceh pada 2026 mengalokasikan anggaran sebesar Rp50.532.491.850 untuk pengadaan Al-Qur’an dan Kitab Kuning guna mendukung pembelajaran santri di Aceh.
Anggaran tersebut disebut bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA), dengan sasaran penerima sebanyak 36.171 santri dari total 252.933 santri di Aceh.
Program tersebut mencakup 286 lembaga dayah yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh, termasuk dayah yang berada di wilayah terdampak bencana.
Razali menyayangkan apabila kitab yang pengadaannya telah selesai sebagaimana informasi yang diterimanya belum segera disalurkan kepada penerima manfaat.
“Kami prihatin, di tengah keterbatasan yang dialami santri korban banjir dan keluarga tak mampu, justru kitab-kitab yang sudah dibeli dengan uang rakyat dibiarkan menumpuk di gudang. Ini tidak boleh dibiarkan,” tegas Razali.
Atas kondisi tersebut, Acheh Future meminta Dinas Pendidikan Dayah Aceh membuka informasi mengenai jadwal dan mekanisme penyaluran bantuan secara transparan.
Mereka juga meminta agar proses distribusi memastikan kitab-kitab tersebut diterima oleh santri yang menjadi sasaran program, termasuk santri dari keluarga kurang mampu, anak yatim, serta santri yang berada di wilayah terdampak bencana.
Hingga berita ini diterbitkan, keterangan dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh mengenai status pengadaan, lokasi penyimpanan, jadwal, serta mekanisme penyaluran Kitab Kuning tersebut belum tercantum dalam materi yang diterima redaksi. Konfirmasi dari pihak terkait diperlukan untuk memperoleh informasi yang berimbang mengenai pelaksanaan program tersebut.












