Wabup Lumajang: Setiap Anak Harus Ditanamkan Budi Pekerti Dan Nilai Keagamaan Sejak Dini

oleh -11 views
Bunda indah saat berdialog di salah satu stasiun radio.

LUMAJANG, Kamis (23/7/2020) suaraindonesia-news.com – Dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional, yang jatuh setiap tanggal 23 Juli, Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), sampaikan kepada seluruh anak-anak di Kabupaten Lumajang untuk menanamkan budi pekerti dan nilai-nilai keagamaan pada diri mereka sejak dini.

Harus ditanamkan kepada anak, menurut Bunda Indah, adalah untuk memastikan mereka menjadi generasi yang berkualitas untuk daerahnya dan bangsa negara.

Hal itu disampaikan Bunda Indah saat berdialog dalam program Jelajah Informasi dan Berita (Jelita) yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun radio di kota pisang ini.

“Nilai-nilai, budi pekerti, keagamaan yang itu harus ditanamkan kepada anak, itu sangat penting ketika mereka dalam masa pertumbuhan,” ujarnya.

Dalam dialog yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional itu, Bunda Indah berharap agar orang tua tidak menggunakan kekerasan dalam mengatasi kebandelan anak. Menurutnya kebandelan anak menjadi bagian dari ujian orang tua dan diharapkan orang tua dapat menempatkan diri kapan mereka menjadi orang tua dan sahabat bagi anak mereka.

“Kita boleh menguasai raganya, tapi tidak jiwanya, anak itu harus diajak bicara, ada cara tertentu tidak dengan kekerasan, tentu orang tua juga bisa marah, tapi orang tua juga bisa jadi teman, jadi sahabat,” tuturnya.

Mengenai banyak keluhan para orang tua yang ingin anaknya kembali bersekolah, Bunda Indah menjelaskan bahwa salah satu solusi yang diberikan oleh Pemkab. adalah Guru Sambang. Nantinya, para guru akan mengunjungi murid secara berkelompok sebagai ganti kegiatan belajar mengajar di kelas.

“Soal guru sambang ini bisa menjadi solusi, berawal dari keluhan yang ingin anaknya sekolah, karena tidak semua orang tua mempunyai kemampuan daring atau online, ada yang tidak punya hp, tentu protokol kesehatan harus diperhatikan, karena sekali pertemuan anak 6-7 orang paling banyak 10 orang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pengendalian Perempuan, dr. Rosyidah menjelaskan bahwa untuk mewujudkan lingkungan yang ramah anak, pendapat anak menjadi bagian yang patut didengarkan dalam proses pembangunan.

“Anak harus kita dengar pendapatnya dalam rangka turut serta dalam pembangunan, jadi harus ada suara anak yang harus di dengar,” ujarnya. (ADV).

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *