BLORA, Rabu (04/11) suaraindonesia-news.com – Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus mengembangkan sektor pertanian untuk menjaga ketersediaan pangan, termasuk di tengah tantangan musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan pertanian organik dan pemanfaatan teknologi pembenah tanah guna mendukung produktivitas lahan pertanian.
Komitmen pengembangan sektor pertanian tersebut disampaikan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, saat menghadiri kegiatan panen raya padi di dua lokasi berbeda, Selasa (3/11/2026).
Dua lokasi tersebut berada di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, dengan hasil panen padi organik binaan Trubus dan Exxon, serta Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, yang menerapkan teknologi pupuk pembenah tanah Gemburin dari PT Chemstar Agro Indonesia.
Bupati Arief mengatakan, panen padi pada musim kemarau menjadi salah satu gambaran potensi sektor pertanian Blora dalam menjaga produksi pangan. Menurutnya, potensi tersebut perlu terus dikembangkan agar dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah maupun nasional.
“Panen di musim kemarau ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa potensi sektor pertanian Blora sangat tangguh. Kami berharap potensi ini terus dikembangkan agar Blora tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah dan Jawa Tengah, tetapi juga berkontribusi secara nasional,” ujar Arief di sela-sela kegiatan.
Kegiatan panen raya tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, serta para camat setempat.
Saat meninjau panen padi organik di Desa Gondel, Bupati Arief mengapresiasi keterlibatan sekitar 108 petani yang tergabung dalam kelompok tani dengan luas lahan mencapai 6,6 hektare.
Hasil produksi beras organik dari kawasan tersebut telah dipasarkan menggunakan merek dagang lokal Bestiw.
Namun, menurut Arief, pengembangan beras organik perlu diimbangi dengan kepastian pasar dan harga jual yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani.
Pemerintah Kabupaten Blora, kata dia, siap membantu memperluas akses pemasaran agar produk beras organik dapat menjangkau konsumen dengan harga yang kompetitif.
“Jika harga beras biasa sekitar Rp13.000 per kilogram, harapannya beras organik ini bisa dipasarkan minimal Rp20.000 per kilogram. Dengan begitu, ada nilai tambah dan pembeda yang signifikan dibanding beras pada umumnya,” jelas Arief.
Selain persoalan pemasaran, pengembangan beras organik di Desa Gondel masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan sarana pengolahan pascapanen, seperti mesin penggiling, oven, dan mesin vakum.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemkab Blora berencana memperkuat peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta mendorong pengujian mutu beras. Pengujian tersebut mencakup cita rasa, tingkat kepulenan, hingga daya tahan produk guna meningkatkan kepercayaan konsumen, khususnya di pasar premium.
Program pendampingan pertanian selama enam bulan di Desa Gondel juga mencakup pemberdayaan kelompok perempuan tani. Mereka mendapatkan pendampingan dalam budidaya sayuran organik serta pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) berbahan nasi secara mandiri.
Sementara itu, di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Bupati Arief meninjau hasil demonstrasi plot (demplot) penerapan pupuk pembenah tanah Gemburin yang dikembangkan PT Chemstar Agro Indonesia.
Ia menyambut baik penerapan teknologi tersebut sebagai salah satu alternatif dalam mendukung peningkatan produktivitas lahan pertanian. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kajian lebih lanjut dan pendampingan terukur untuk mengetahui manfaat penerapannya.
“Hasil demplot yang bagus ini perlu ditindaklanjuti dengan kajian mendalam, sehingga kita tahu manfaat nyatanya terhadap peningkatan produksi, perbaikan kualitas tanah, maupun efisiensi biaya usaha tani,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Bupati Arief menginstruksikan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4), para penyuluh pertanian, serta Camat Kradenan untuk menyebarluaskan informasi mengenai teknologi tersebut kepada kelompok tani lainnya.
Dengan demikian, petani dapat melihat secara langsung hasil penerapannya dan mempertimbangkan penggunaan teknologi tersebut sesuai kondisi lahan masing-masing.
Pemkab Blora juga berharap PT Chemstar Agro Indonesia dapat melanjutkan edukasi dan kerja sama secara berkelanjutan, sehingga pengembangan teknologi pertanian dapat memberikan manfaat nyata bagi petani.
Melalui pengembangan pertanian organik, pendampingan petani, serta pengujian inovasi teknologi pembenah tanah, Pemkab Blora berharap produktivitas pertanian terus meningkat dan mampu memperkuat peran daerah tersebut dalam mendukung ketahanan pangan di Jawa Tengah maupun tingkat nasional.












