PAMEKASAN, Rabu (04/11) suaraindonesia-news.com – Karang Taruna Kabupaten Pamekasan menggelar diskusi publik bertajuk “Industri Demonstrasi” di Jagad Cafe, Jalan Sekar Putih, Kelurahan Laden, Kabupaten Pamekasan, Selasa (4/11/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kalangan, yakni Sekretaris Daerah Kabupaten Pamekasan yang diwakili Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Rahmat Kurniadi Suroso, CEO PT Bawang Mas Group H. Khairul Umam, Kapolres Pamekasan yang diwakili Ndan Rofik, Owner PR Ayunda H. Bambang Budianto yang diwakili manajernya, Samhari, Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) M. Khairul Umam, serta akademisi Moh. Elman.
Diskusi tersebut juga dihadiri puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan wartawan.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Pamekasan, Moh. Faridi, menjelaskan bahwa tema “Industri Demonstrasi” diangkat berdasarkan kegelisahan terhadap perkembangan sektor industri dan dinamika aksi demonstrasi di Kabupaten Pamekasan.
Menurutnya, kedua fenomena tersebut memiliki perkembangan dan dampak tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, baik dari sisi positif maupun negatif.
“Karena berangkat dari kegelisahan kita bersama di tengah majunya industri kita, demonstrasi juga mengalami kemajuan luar biasa. Dan keduanya ini memberikan implikasi positif dan negatif terhadap Kabupaten Pamekasan,” ujar Faridi.
Ia menegaskan, pengangkatan tema tersebut bukan berarti Karang Taruna menyimpulkan bahwa demonstrasi di Pamekasan telah berubah menjadi sebuah industri.
“Kami tidak menyimpulkan demonstrasi sudah menjadi industri. Tetapi kami menyajikan kepada publik bahwasanya ada industri demonstrasi yang kami maksudkan tidak demikian. Kami justru melihat dua ornamen ini layak disandingkan karena sama-sama memberikan kontribusi terhadap Kabupaten Pamekasan,” tegasnya.
Faridi mengatakan, Karang Taruna memiliki peran dalam menghimpun generasi muda, khususnya mereka yang berusia 17 hingga 30 tahun, sekaligus menyediakan ruang untuk pengembangan kapasitas, wawasan, dan kemampuan berpikir kritis.
Ia mengapresiasi tingginya antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi tersebut. Menurutnya, respons dan partisipasi anak muda menunjukkan adanya ketertarikan untuk mendalami berbagai persoalan serta potensi daerah.
“Kita berharap ke depan makin banyak diskusi-diskusi model ini sehingga kajian-kajian terkait potensi dan masalah di Kabupaten Pamekasan tuntas dikaji oleh anak-anak muda,” harapnya.
Mengenai tindak lanjut kegiatan, Faridi menyampaikan bahwa Karang Taruna tidak berencana mengeluarkan rekomendasi maupun siaran pers sebagai hasil diskusi. Organisasi tersebut lebih memilih menjadikan forum diskusi sebagai agenda berkala untuk memperluas wawasan dan memperkaya pemahaman generasi muda.
Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat memahami kontribusi sektor industri terhadap perkembangan ekonomi dan sosial, sekaligus melihat peran demonstrasi sebagai salah satu bentuk penyampaian aspirasi dan kontrol masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
“Anak muda akan tahu apa kontribusi industri terhadap kemajuan ekonomi sosial, bagaimana kontribusi demonstrasi terhadap kemajuan. Itu akan menjadi referensi sendiri bagi setiap anak muda yang hadir,” jelas Faridi.
Dalam kesempatan itu, Faridi juga menyampaikan pandangannya mengenai pelaksanaan demonstrasi di Pamekasan. Ia menilai aksi unjuk rasa perlu didahului dengan kajian, pengumpulan data, serta analisis persoalan yang matang agar aspirasi yang disampaikan memiliki dasar yang kuat.
Ia mengkritisi adanya aksi demonstrasi yang menurut pengamatannya belum didukung kajian dan data yang memadai.
“Yang saya temui adalah ada banyak demo yang prosesnya tidak tuntas, kajiannya tidak tuntas, datanya tidak solid, sounding ide-nya belum selesai, lalu demo. Ini yang salah,” ujarnya.
Faridi menegaskan bahwa demonstrasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi, terutama sebagai sarana menyampaikan aspirasi dan mengawasi kebijakan pemerintah.
Menurutnya, aksi demonstrasi idealnya ditempuh setelah upaya penyampaian gagasan, pengumpulan data, dan analisis persoalan dilakukan secara maksimal, tetapi belum mendapatkan penyelesaian.
“Demo itu power terakhir ketika semua ide, data lengkap, analisa tuntas, tidak diterima sebagai jalan keluar atas masalah, ya demo. Tanpa demonstrasi, pejabat akan sewenang-wenang. Maka demonstrasi tetap penting sebagai kontrol terhadap kebijakan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Karang Taruna Kabupaten Pamekasan berharap generasi muda semakin aktif membangun budaya diskusi, memperkuat tradisi intelektual, serta berpartisipasi secara kritis dan bertanggung jawab dalam mengawal pembangunan daerah.












