Ikhtiar Mencari Titik Temu Angkutan Online dan Konvensional di Jember

Ikhtiar Mencari Titik Temu Angkutan Online dan Konvensional, Senin (13/8), di Aula bawah Pemkab Jember dengan dihadiri berbagai stakeholder terkait.

JEMBER, Senin (13/8/2018) suaraindonesia-news.com – Tidak dapat dipungkiri perkembangan jaman dewasa ini semua serba digital demi memenuhi era milenial yang menuntut kecepatan dan sisi praktis.

Begitu pun dengan angkutan transportasi juga tak luput dari sasaran perkembangan tersebut. Angkutan berbasis online misalnya, tentu sudah tidak asing lagi keberadaannya. Angkutan online menawarkan sisi kemudahan serta kemudahan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan masyarakat yang notabenenya belum melek IT.

Kehadiran online pun sampai saat ini masih menuai kontroversi dengan angkutan konvensional. Seperti yang telah terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Begitu pula yang terjadi di Jember, meskipun beberapa kali sudah dilakukan mediasi deklarasi damai antara keduanya (konvensional dengan online) namun masih saja terjadi konflik. Hal ini tentu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah dan penegak hukum setempat. Seperti yang dilakukan pada hari ini, Senin (13/8) keduanya kembali dipertemukan di Aula bawah Pemkab Jember dengan dihadiri berbagai stakeholder terkait.

Kapolres Jember AKBP. Kusworo Wibowo, SH, SIK, MH menyampaikan dalam sambutannya bahwa ini adalah ikhtiar mediasi yang ketiga kalinya.

Baca Juga: Bupati Jember Mediasi Angkutan Konvensional dan Online 

“Jadi ini sudah pertemuan yang ketiga ya, yang pertama pada November 2017, kemudian kemarin ada aspirasi lagi sedikit sehingga diadakan lagi pertemuan, namun dalam pertemuan tersebut ada pihak-pihak yang merasa tidak diundang sehingga komunikasinya tidak tersampaikan, sehingga pada pagi hari ini semua sudah hadir, saya tekankan pada rekan-rekan yang hadir, setelah ini saya tidak mau lagi ada pihak yang datang bahwa dia tidak diundang sehingga tidak mengakui kesepakatan damai,” ucap Kusworo dalam sambutannya.

Kusworo menerangkan bahwa jaman berubah, perkembangan terus berubah, ketika ingin membeli sesuatu tak perlu lagi menghampiri penjualnya.

“Kita pingin ayam goreng, kita tinggal telepon, ayamnya sudah datang. Padahal dulu tidak ada seperti itu, dulu kita pingin siomay nunggu gerobak siomaynya lewat. Seiring dengan berjalannya waktu berubah itu semua, angkutan pun sedang mengalami masa transisi, ada ojek konvensional ada ojek online, kita tidak bisa membendung, angkutan konvensional bilang pokoknya di Jember tidak ada angkutan online, sedangkan angkutan online bilang pokoknya angkutan konvensional harus hilang dari Jember, tidak bisa seperti itu, kita harus hormat-menghormati,” sambungnya.

Kusworo mengajak para perwakilan dari kedua belah pihak untuk saling menerima untuk menciptakan kenyamanan ketika mencari nafkah.

Beberapa hari yang lalu, pengemudi angkutan online menyampaikan bahwa dirinya merasa tidak nyaman saat mencari nafkah, padahal telah mematuhi kesepakatan mengenai pengambilan penumpang dengan jarak 300 meter dari pusat keramaian.

“Intimidasi kami rasakan di beberapa titik keramaian, padahal kita sudah mencoba mentaati soal ambil penumpang dengan jarak 300 meter, tapi opang (ojek pangkalan) tetap beri intimidasi, contohnya dengan opang semalam, kami ribut di Jl, PB. Sudirman,” kata Ardiansyah, anggota Persatuan Driver Gojek Indonesia saat memberikan aspirasi di depan Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo, dilansir dari tribunnews.com pada Kamis (9/8/2018)

Sementara itu Bupati Jember, dr. Hj. Faida MMR dalam acara tersebut menegaskan bahwa kesepakatan atau mediasi yang dilakukan harus berorientasi pada kepentingan konsumen.

“Sejatinya yang paling penting itu adalah fokus pada kostumer itu perlunya kepada apa sih. Ojek konvensional itu ada karena ada kostumer yang masih konvensional. Adanya ojek online yang tumbuh itu karena perubahan jaman dan kostumernya ada, berarti kan dua-duanya harus ada. Jadi saya pesankan semuanya harus mengantarkan kostumer sampai di tempat tujuan. Semua kostumer harus bisa dijemput di semua tempat di Jember hanya diatur untuk tempat-tempat tertentu harus ada kesepakatan dimana hanya konvensional yang boleh jemput,” terang Faida.

Imaniar, pengguna jasa ojek online mengatakan bahwa dirinya merasa terbantu dengan adanya angkutan online. “Bagi saya ojek online adalah solusi dari angkutan yang ada selama ini, disamping ongkos bayarnya lebih murah ia juga langsung menjemput ke tempat” ucapnya

Ia juga menilai bahwa menggunakan jasa ojek online lebih praktis dari pada konvensional.

“Kalau dengan angkot itu kan beda, turunnya hanya di jalan umum saja, tidak sampai ke gang-gang gitu seperti ojek online,” pungkasnya.

Ikhtiar mediasi antara angkutan online dengan angkutan konvensional kali ini melahirkan kesepakatan baru yang ditandatangani kedua belah pihak. Berikut kesepakatannya :

Foto lampiran kesepakatan antara angkutan online dan angkutan konvensional yang ditandatangani pada 13 Agustus 2018. (Foto: Guntur Rahmatullah)

Reporter: Eko/Guntur
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here