NUSANTARA, Selasa (28/4) suaraindonesia-news.com – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mengambil langkah tegas dalam menjaga integritas paru-paru hijau Nusantara.
Di tengah ancaman perambahan hutan yang masih mengintai, OIKN bersama Satgas Penanggulangan Aktivitas Ilegal dan Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar aksi penanaman pohon massal di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto KM 65, Selasa (28/4).
Aksi ini bukan sekadar seremoni lingkungan biasa. Ini adalah pesan simbolis sekaligus aksi nyata untuk merebut kembali lahan-lahan yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal yang merusak fungsi ekologis hutan hujan tropis Kalimantan selama beberapa tahun terakhir.
Sebanyak 100 bibit pohon endemik bernilai tinggi mulai dari Gaharu, Balangeran, Nyatoh, Meranti, hingga Nyamplung ditanam di area yang telah terbuka.
Penanaman ini menjadi fondasi bagi visi besar IKN sebagai Forest City yang mengedepankan pendekatan saintifik dalam pemulihan ekosistem.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Safitri, mengungkapkan bahwa aktivitas perambahan hutan di wilayah tersebut tergolong masif. Selama ini, para perambah kerap “kucing-kucingan” dengan petugas.
“Lokasi ini krusial sebagai laboratorium hutan tropis Kalimantan. Saat ada patroli, aktivitas ilegal berhenti, tapi saat lengah, mereka kembali lagi. Penanaman hari ini adalah komitmen bersama bahwa Tahura harus dijaga. Kami tegaskan, pendekatan persuasif sudah dilakukan, namun proses hukum bagi mereka yang terbukti melanggar akan tetap berjalan lurus,” tegas Myrna.
Keterlibatan multipihak, mulai dari Dinas Kehutanan Kaltim, TNI-Polri, Kejaksaan, hingga perangkat desa, menunjukkan bahwa pengamanan IKN adalah tanggung jawab kolektif.
Kepala UPA Sumber Daya Hayati Hutan Tropis Lembap Unmul, Ibrahim, mengingatkan bahwa memulihkan hutan yang sudah lama terbuka jauh lebih sulit daripada sekadar menanam.
“Hutan hujan tropis kita memiliki nilai ekologis luar biasa, mampu menyimpan hingga 70 persen vegetasi. Namun, rehabilitasi di lahan yang sudah rusak akibat aktivitas ilegal menuntut konsistensi. Kita tidak hanya bicara soal menanam, tapi bagaimana mengamankan area ini agar vegetasi yang baru bisa bertahan dan tumbuh,” ulas Ibrahim yang hadir mewakili Rektor Unmul.
Kolaborasi strategis ini menjadi tonggak penting dalam perlindungan kawasan penyangga IKN. Otorita IKN mengirimkan sinyal kuat kepada pihak-pihak yang mencoba merusak hutan serta pembangunan Nusantara tidak akan mengorbankan kelestarian alam.
Melalui sinergi antara sains dari akademisi, ketegasan aparat hukum, dan visi lingkungan Otorita IKN, Tahura Bukit Soeharto diharapkan kembali menjadi jantung Kalimantan yang sehat, menyokong pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagai kota hutan berkelanjutan di mata dunia.












