DELI SERDANG, Rabu (26/8) suaraindonesia-news.com – Pemerintah Desa Sambirejo Timur (Samtim), Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, memanfaatkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sebagai momentum edukasi bagi orang tua dan anak terkait pola asuh serta penggunaan gawai secara bijak.
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Serbaguna dan Taman Baca Al-Qur’an, Jalan Rahayu, Dusun VIII Cempaka, Selasa malam (25/8/2026), tersebut dihadiri warga setelah salat Isya hingga sekitar pukul 22.30 WIB.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Desa Sambirejo Timur Mhd. Arifin, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Deli Serdang Junaidi Malik, SH, CHT, serta penceramah Ustadz Eko Prastiono, S.Pd.I.
Dalam sambutannya, Mhd. Arifin mengingatkan para orang tua agar memberikan perhatian terhadap penggunaan gawai oleh anak. Menurutnya, orang tua perlu melakukan pengawasan terhadap konten yang dikonsumsi anak melalui perangkat digital.
“Orang tua wajib memfilter konten yang dikonsumsi anak. Game online saat ini bisa mengikis rasa tega dan empati mereka. Apa yang mereka tonton dan mainkan di HP Android langsung berdampak pada perilaku sehari-hari. Pengawasan ketat adalah harga mati,” ujar Arifin.
Sementara itu, Ketua LPA Deli Serdang Junaidi Malik mengajak anak-anak untuk mengedepankan kejujuran. Ia juga mendorong orang tua menerapkan pola asuh yang memberikan apresiasi terhadap potensi dan perkembangan anak.
“Hati anak itu akan berbunga-bunga jika diapresiasi. Jadi, berikan pujian dan doa. Stop membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Tugas kita adalah mendukung minat dan bakat mereka, bukan memaksakan kehendak ego orang tua,” kata Junaidi.
Dalam sesi tausiah, Ustadz Eko Prastiono juga menyampaikan pesan kepada para pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) agar menciptakan lingkungan masjid yang ramah bagi anak-anak dan generasi muda.
Ia mengimbau agar anak-anak yang datang ke masjid untuk mengikuti salat berjamaah tidak diusir ketika membuat suasana menjadi kurang tertib. Menurutnya, anak-anak perlu dirangkul dan diberikan nasihat secara baik.
“Jangan pernah mengusir anak-anak yang datang ke masjid untuk salat berjamaah. Kalau mereka bising, rangkul dan nasihati dengan lembut, bukan malah diusir atau dimarahi,” tutur Eko.
Dalam kesempatan tersebut, Eko juga mengaitkan momentum bulan kemerdekaan dengan sejarah pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ia menyampaikan pandangan mengenai simbolisasi angka 17 dengan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari.
Untuk menciptakan suasana yang lebih interaktif, panitia juga menyisipkan kuis bernuansa Islami di sela-sela kegiatan. Anak-anak yang hadir terlihat antusias mengikuti kuis dan memperoleh hadiah berupa permainan edukatif yang dibagikan oleh para tokoh masyarakat.
Sejumlah guru pembimbing dan pengurus pondok turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Aipda Ahmad Darmawan, Doni Pasaribu, S.Pd., Akhyar Nasution, S.Ag., Hilal Al Husnawi, S.Ag., Ardy/Acek, dan Hermanto.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan peringatan Maulid Nabi tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan penguatan peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah penggunaan teknologi digital.












