exodus
BeritaNewsPemerintahan

Dedie Rachim Tegaskan Komitmen Wujudkan Kota Bogor Ramah Ostomate dan Inklusif

×

Dedie Rachim Tegaskan Komitmen Wujudkan Kota Bogor Ramah Ostomate dan Inklusif

Sebarkan artikel ini
IMG 20261108 210544
Foto: Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat pelaksanaan Asia and South Pacific Ostomy Association (ASPOA) Conference dan Diabetes Wound Expo (DWE) 2026

KOTA BOGOR, Minggu (08/11) suaraindonesia-news.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menegaskan komitmennya untuk mewujudkan lingkungan yang ramah bagi penyandang ostomi melalui semangat Bogor Sayang Ostomate. Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat membuka kegiatan Asia and South Pacific Ostomy Association (ASPOA) Conference dan Diabetes Wound Expo (DWE) 2026 di IPB International Convention Center (IPB ICC).

Kegiatan yang mengusung tema “Empowering Care Through Knowledge, Connection, and Compassion” tersebut menjadi forum untuk memperkuat pengetahuan, jejaring, serta kepedulian dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi penyandang ostomi dan pasien diabetes.

Dalam sambutannya, Dedie Rachim menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu tidak hanya bertumpu pada aspek medis, tetapi juga membutuhkan pengetahuan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap pasien.

Menurutnya, penyandang ostomi masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan tersebut meliputi kondisi fisik, stigma sosial, rendahnya rasa percaya diri, hingga hambatan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, beribadah, dan bersosialisasi.

Melalui program Bogor Sayang Ostomate, Pemkot Bogor berupaya mendorong terwujudnya Kota Ramah Ostomate yang memberikan ruang bagi setiap warga untuk hidup secara bermartabat dan memperoleh kesempatan yang setara.

“Kota Bogor mendukung setiap penyandang ostomi agar diterima, dihargai, serta berdaya untuk hidup bermartabat, produktif, dan aktif di masyarakat,” ujar Dedie.

Ia menambahkan, komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui edukasi untuk menghapus stigma, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang memahami kebutuhan pasien, serta penyediaan fasilitas publik yang semakin ramah bagi penyandang ostomi.

“Tidak boleh ada warga yang tersisih karena kondisi kesehatannya,” tegasnya.

Selain perhatian terhadap penyandang ostomi, Dedie juga menyoroti pentingnya penanganan diabetes. Menurutnya, diabetes yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan komplikasi serius, termasuk luka kaki diabetik yang dalam kondisi tertentu dapat berujung pada amputasi.

Untuk itu, Pemkot Bogor terus memperkuat upaya promosi kesehatan, pencegahan, dan deteksi dini melalui puskesmas serta posyandu.

Dedie menyebutkan, capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025 menjadi yang tertinggi di Jawa Barat. Sementara pada 2026, program CKG SMART dihadirkan untuk mendekatkan layanan skrining kesehatan kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan dan perawatan luka.

“Pasien juga membutuhkan dukungan keluarga, penerimaan sosial, dan informasi yang tepercaya. Kolaborasi pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas pasien menjadi kunci dalam mewujudkan pelayanan yang berkesinambungan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dedie berharap penyelenggaraan konferensi internasional tersebut dapat memperkuat hubungan antarlembaga dan negara, sekaligus menjadi sarana pertukaran pengetahuan serta pengalaman dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.

Ia juga mengingatkan bahwa Kota Bogor memiliki pengalaman menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional, salah satunya APEC 1994 yang menghasilkan Deklarasi Bogor.

“Semoga forum ini mempererat persahabatan serta memperkuat pertukaran pengetahuan dan kerja sama lintas negara. Di balik setiap diagnosis, ada seorang manusia, keluarga, dan kisah yang patut kita pedulikan dan hormati,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ASPOA Conference dan Diabetes Wound Expo 2026, diharapkan kolaborasi lintas negara dan lintas sektor semakin kuat dalam mendorong pelayanan kesehatan yang inklusif, berkelanjutan, serta berorientasi pada kebutuhan pasien.

Tinggalkan Balasan