Terkait Rehab DI Jambo Aye, Pegiat Sosial Pertanyakan Janji Balai Wilayah 1 Sumut

oleh -334 views
Foto : Muhammad Yunus, Aktivis Pegiat Sosial.

ACEH UTARA, Kamis (13/08/2020) suaraindonesia-news.com – Pegiat Aktivis Sosial Aceh mempertanyakan realisasi rencana Balai Wilayah 1 Sumatra (BWS) akan melakukan rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye-Langkahan yang telah dilakukan survei dan isvestigasi pada awal tahun 2019.

Rehabitasi DI Jambo Aye -Langkahan sangat mendesak dan sudah emergensi mengingat sejumlah pintu penahan air pasang surut yang telah rusak dan tak berfungsi serta saluran primer, sekunder yang perlu direhab.

Hal itu disampaikan Muhammad Yunus Pegiat Aktivis Sosial Aceh kepada media ini Kamis 13/08 di Kota Panton Labu menanggapi kesulitan yang dihadapi petani saat ini.

“Jika harus menunggu beberapa tahun lagi, rehabilitasi baru dikerjakan atau tidak jelas kapan di kerjakan, sedangkan petani saat ini tidak mungkin petani harus berhenti menggarab lahan sawah mereka, karena usaha tani padi merupakan sumber utama perekonomian masyarakat,” katanya.

Namun disisi lain kata dia, petani was-was terhadap kendala yang akan dihadapi petani baik dalam hal kecujupan air maupun masalah lain nya, seperti yang dihadapi petani di Desa Tanjung Menuang, Tanjong dalam, dan Tanjong Minje Krcamatan Tanah Jambo Aceh Utara.

“Sudah beberapa tahun hasil panen mereka gagal dan Petani rugi, soal nya jelang panen air asin meluap ke areal sawah terutama saat terjadi pasang purnama, karena pintu penahan air pasang surut yang berada di Desa Tanjong Minjei yang telah rusak akibat sudah lapuk dimakan usia,” tuturnya.

Akibat meluap air asin, 15 hektar tanaman padi hampir siap panen musnah hangus karena pengaruh luapan air asin.

“Itu belum lagi dengan kondisi beberapa titik pintu penahan air pasang surut di Paya Cicem Kecamatan Baktiya, Desa Lueng Peut Kecamatan Madat dan Simpang Ulim,” sebut M.Yunus

Menurutnya, bagaimana Pemerintah menuntut Petani untuk mengoptimalkan hasil produksi pertanian, namun pihak Pemerintah sendiri khusus nya Balai Wilayah 1 Sumut selaku pihak yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pembiayaan DI Jambo Aye dan Langkahan sangat lamban dalam bekerja.

“Padahal biaya rehabilitasi ini sudah ada, kan didanai ADB(Asian Development Bank), jadi harus menunggu berapa tahun lagi realisasi pihak BWS,” ujarnya.

“Ketidak becusan kinerja Balai Wilayah 1 Sumatra dalam menangani persoalan Irigasi, maka sebaiknya Menteri PUPR RI untuk mengeluasi kinerja mereka baik management BWS dan pihak perusahaan konsultan yang membuat perencanaan,” ujar M.Yunus

Sementara Kepala Ranting PU Pengairan Panton Labu, Khairil saat diminta tanggapan terkait banyak keluhan petani terutama tidak berfunsinya lagi pintu penahan pasang surut disejumlah titik yang telah rusak dan mengancam keselamatan tanaman padi petani, mengakui beberapa pintu penahan air pasang surut pada saluran pembuangan telah rusak dan tak berfungsi,.

“Namun yang berwenang yang menangani masalah DI Jambo Aye dan Langkahan adalah Balai Wilayah 1 Sumatra, karena anggaran harus dari APBN, namun pihak WBS sudah membuat perncanaan dan sudah melakukan survei, jadi kita menunggu realisasi dari BWS,” jelas Khairil.

“Kami juga telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi dengan membuat pintu darurat secara manual, namun tetap tidak maksimal, air tetap meluap ke areal sawah,” ujar Khairil.

Sebelum nya, Kepala Satker BWS Sumatera I, Mahdani, di kutip dari spiritnews.co 21/03/19 mengatakan, pemerintah sudah mencanangkan program rehabitasi irigasi Jambo Aye – Langkahan.

“Untuk daerah irigasi kewenangan pusat seluas 19.473 hektar lahan irigasi merupakan yang dikendalikan oleh PPK Perencanaan dan Program Satker BWS Sumatera I,” katanya.

“Sedangkan rekanan penyedia jasa adalah PT Suwanda Karya Mandiri KSO dengan PT Bhawana Prasasta selaku konsultan teknik. Kegiatan ini nantinya akan didanai dengan anggaran dari Asian Development Bank (ADB),” tambahnya.

Diakuinya, kondisi infrastruktur sumber daya air (SDA) di Kabupaten Aceh Utara, kata Mahdani, kali ini Irigasi Jambo Aye – Langkahan yang berusia 38 tahun akan dilakukan rehabilitasi secara menyeluruh. Karena itu menjamin ketersediaan air sangat penting.

“Namun rehabilitasi yang pernah dilakukan hanya bersifat parsial, atau sebagian-sebagian sesuai kondisi lapangan terjadi penurunan fungsinya sehingga debit air di saluran irigasi berkurang,” tukasnya.

Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *