Tak Bisa Bayar Biaya Perawatan, Nenek Kaliyem Sempat Tertahan di RSUD Deliserdang

Kaliyem (60) adalah salah satu penduduk miskin yang sempat ditahan oleh pihak RSUD karena tak sanggup menyelesaikan administrasinya sebesar 1,3 juta rupiah.

DELI SERDANG, Minggu (28/07/2019) suaraindonesia-news.com – Salah seorang Warga Dusun III, Desa Paya Itik, Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang, Kaliyem (60) adalah salah satu penduduk miskin yang sempat ditahan oleh pihak RSUD karena tak sanggup menyelesaikan administrasinya sebesar 1,3 juta rupiah.

Ketika ditemui di Rumah Sakit Umum, Sabtu (27/07/2019), Nenek Kaliyem yang ditemani Santi (19) anak korban mengatakan, ibunya masuk Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Deliserdang pada hari Selasa (23/07/2019) kemarin dan sudah empat hari dirawat di RSUD karena terkena penyakit TBC.

“Tahun lalu sudah pernah dirawat pada bulan 6 kemarin. Dirawat menggunakan surat keterangan miskin dari Dinas Sosial. Padahal pada waktu itu kondisi nenek Kaliyem masih lemas, namun tetap dipulangkan oleh rumah Sakit,” katanya.

Karena sakitnya kambuh, nenek Kaliyem kembali dirawat di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut, dan sudah empat hari rawat. Dengan kehidupan sehari-hari serba kekurangan, kini pihak keluarga kebingungan untuk membayar biaya rumah sakit sebesar 1.3 juta rupiah.

Kaliyem masih ditahan pihak rumah sakit meski ia sudah tidak betah, dan yang dikhawatirkan biaya akan terus bertambah. Sementara untuk pembayaran tagihan rumah sakit sekarang ini saja Kaliyem dan keluarganya sudah kebingungan.

“Mamak sudah kepanasan dan sangat tidak betah. Dia ingin pulang. Tapi bagaimana caranya? Keluarga bingung menebus biaya rumah sakit,” ujar anak Kaliyem kepada awak media. Sabtu, (27/7/2019) Nenek Kaliyem dirawat di ruang Asoka khusus untuk pasien TBC.

Pasien tampak sangat sedih saat sejumlah wartawan mencoba mewawancarainya untuk menanyakan keadaannya. Saat ini Nenek Kaliyem terus meneteskan air mata.

Kondisi Nenek Kaliyem memang sangat memprihatinkan. Tak hanya beban penyakit yang dideritanya, namun beban perasaan karena miskin dan bingung dari mana mendapatkan uang untuk menebus biaya rumah sakit agar bisa pulang.

Sementara Direktur Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Deliserdang, dr Hanif Fahri saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah mengusahakan pasien di tagihan biaya tanggap darurat. Tapi ternyata pasien sudah pernah berobat menggunakan biaya tanggap darurat itu. Sehingga, sesuai ketentuan yang berlaku, biaya tanggap darurat hanya bisa digunakan sekali untuk berobat gratis.

“Sementara Nenek Kaliyem sudah pernah berobat dengan biaya tanggap darurat itu di bulan 8 tahun 2018 kemarin. Jadi pasien kali ini dikenakan menjadi pasien umum,” pungkasnya.

Sempat ada pelarangan terhadap media ketika pengambilan gambar nenek Kaliyem oleh oknum pegawai RSUD Deliserdang. Selang beberapa jam kehadiran awak media meliput pasien tersebut, Nenek Kaliyem akhirnya dipulangkan dengan dibebaskan seluruh administrasinya.

Reporter : M. Habil Syah
Editor : Amin
Publisher : Mariska


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here