ACEH TIMUR, Senin (01/06) suaraindonesia-news.com – Sejumlah petani tambak di Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, mengeluhkan kondisi alur sungai yang mengalami pendangkalan dan penyumbatan akibat sedimentasi pascabanjir yang melanda kawasan tersebut pada akhir tahun 2025.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas budidaya perikanan masyarakat. Alur sungai yang dangkal menyebabkan air pasang tidak dapat mengalir secara optimal ke area tambak, sehingga menghambat proses produksi dan menimbulkan kerugian bagi para petani.
Nurdin, petani tambak asal Desa Lueng Peut, mengatakan banjir yang terjadi sebelumnya telah merusak tambak serta menghanyutkan bibit ikan dan udang milik warga. Saat ini, banyak tambak yang belum dapat difungsikan karena kondisi alur sungai yang mengalami pendangkalan.
“Kondisi ini membuat kami sangat terpuruk,” ujar Nurdin.
Keluhan serupa disampaikan Abdul Gani (58). Menurutnya, banjir meninggalkan sedimentasi lumpur di area tambak dengan ketebalan rata-rata mencapai 60 hingga 80 sentimeter.
“Tidak bisa kita turun ke dalam tambak karena sedimentasi lumpurnya hampir satu meter,” katanya.
Ia juga menuturkan bahwa sedimentasi lumpur diduga memengaruhi pertumbuhan ikan dan udang. Bahkan, benur yang ditebar ke tambak disebut kerap tidak bertahan hidup setelah banjir terjadi.
“Entah karena panas atau sebab lainnya, benur ikan dan udang mati saat ditebar dalam kolam tambak. Fenomena tersebut terjadi setelah banjir,” tuturnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Madat, Dahri Sulaiman, saat meninjau kondisi alur sungai di Desa Abeuk Geulante, menyampaikan bahwa sektor perikanan menjadi salah satu yang paling terdampak akibat bencana tersebut.
“Kerugian terbesar akibat banjir terjadi di sektor tambak karena banyak tambak warga rusak dan ikan serta udang yang hampir panen hilang,” ujarnya kepada media, Senin (1/6/2026).
Dahri yang akrab disapa Pang Koleh memperkirakan kerugian yang dialami petani tambak mencapai puluhan miliar rupiah.
“Sekitar puluhan miliar petani tambak menderita kerugian akibat bencana ini, bahkan lebih besar dibandingkan dengan kerugian di sektor pertanian,” katanya.
Menurutnya, hingga sekitar tujuh bulan setelah banjir terjadi, para petani tambak belum menerima bantuan yang secara khusus ditujukan untuk pemulihan sektor tersebut.
“Kami membutuhkan perhatian serius di sektor tambak karena hasil tambak merupakan penopang kehidupan ekonomi masyarakat di kawasan pesisir,” ujarnya.
Pang Koleh juga meminta pemerintah, termasuk instansi terkait penanggulangan bencana, untuk segera melakukan rehabilitasi dan normalisasi alur sungai yang mengalami pendangkalan agar aktivitas budidaya tambak dapat kembali berjalan.
“Sentra ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas dalam pemulihan pascabencana ini agar roda ekonomi masyarakat bisa tumbuh dan pulih seperti sedia kala,” pungkasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah desa di Kecamatan Madat yang terdampak pendangkalan alur sungai dan kerusakan tambak antara lain Desa Abeuk Geulante, Lueng Peut, Lueng Dua, dan Meunasah Tingkeum.
Di wilayah tersebut terdapat sekitar 3.000 hektare area tambak yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Sementara panjang alur sungai yang dilaporkan mengalami pendangkalan diperkirakan mencapai sekitar 40 kilometer.
Reporter: Masri
Editor: Qonita
Publisher: Eka







