BLORA, Senin (1/6) suaraindonesia-news.com – Aksi Tumpah Tebu yang digelar di depan PG GMM Todanan, Kabupaten Blora, Senin (1/6/2026), berlangsung sebagai wadah penyampaian aspirasi para petani tebu dan sejumlah elemen masyarakat. Kegiatan tersebut diisi dengan mimbar bebas yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangan dan keluhan terkait kondisi sektor pertanian tebu.
Koordinator aksi, Exi Wijaya, mengatakan mimbar bebas tersebut menjadi ruang terbuka bagi petani, buruh, mahasiswa, aktivis, hingga tokoh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
“Di tempat ini tidak ada sekat jabatan, tidak ada privilese kekuasaan, dan tidak ada perbedaan derajat. Yang berbicara bukanlah mereka yang memiliki kewenangan semata, melainkan mereka yang merasakan langsung dampak dari sebuah kebijakan,” ujar Exi Wijaya di lokasi aksi.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah petani secara bergantian menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan. Di antaranya meningkatnya biaya produksi, tingginya harga pupuk, serta ketidakpastian harga jual hasil panen tebu.
Salah seorang petani, Slamet Riyadi (52), menyebut forum tersebut sebagai ruang untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami secara langsung.
“Kami bukan hanya mengeluh. Setiap petani yang berdiri dan berbicara sedang memberikan kesaksian tentang realitas yang tidak selalu tercatat dalam laporan resmi,” katanya.
Selain petani, mahasiswa dan aktivis yang hadir juga menyampaikan pandangannya mengenai kondisi sektor pergulaan nasional. Mereka menilai persoalan yang dihadapi petani tebu berkaitan dengan tata niaga gula dan upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Tumpukan tebu yang dibawa peserta aksi menjadi simbol dari hasil kerja para petani yang selama ini berkontribusi terhadap sektor pertanian dan industri gula.
Meski menyampaikan sejumlah tuntutan dan aspirasi, aksi berlangsung dalam suasana tertib dan kondusif. Menurut Exi Wijaya, pelaksanaan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian aspirasi dapat dilakukan melalui mekanisme demokrasi yang damai.
“Demokrasi hidup ketika rakyat berani bersuara. Demokrasi hidup ketika petani memiliki ruang untuk didengar. Demokrasi hidup ketika kekuasaan mau mendengarkan,” ujarnya.
Aksi tersebut menjadi sarana bagi para petani untuk menyampaikan harapan agar berbagai persoalan yang mereka hadapi mendapat perhatian dari pihak terkait. Mereka berharap aspirasi yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan sektor pertanian tebu dan kesejahteraan petani.
Reporter: Nurul
Editor: Qonita
Publisher: Eka







