JFC Pertama Tanpa Dynand Fariz

oleh -315 views
Penampilan para pecinta hewan dalam Pets Carnival JFC ke-18. (Foto: Guntur Rahmatullah)

JEMBER, Kamis (1/8/2019) suaraindonesia-news.com – Karnaval fesyen kelas dunia, Jember Fashion Carnaval (JFC) telah memasuki usia ke 18 pada tahun 2019 ini. JFC bertema “Tribal Grandeur” yang mengangkat suku-suku bangsa di dunia ini pun menjadi JFC pertama tanpa sang pendiri, Dynand Fariz.

Sang Maestro, Dynand Fariz telah meninggal dunia pada Rabu (17 April 2019) lalu. Dia mengalami infeksi saluran pernafasan setelah pulang dari Jakarta.

Upacara pembukaan JFC ke 18 berlangsung di depan Gedung Pemkab Jember, Jalan Sudarman dan dihadiri oleh Bupati Jember Faida dan desainer Anne Avantie, Rabu (31/7) sore.

Bupati Jember berjanji Pemerintah Kabupaten Jember akan menjaga warisan Dynand Fariz ini dan menjadikannya sebagai aset daerah.

“Saya Faida, Bupati Jember, berjanji atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Jember, akan terus menjaga dan mendukung JFC untuk terus terselenggara, bahkan komunikasi sudah dilakukan dengan Pemprov dan Presiden,” janji Bupati Jember.

Hari pertama (1 Agustus 2019) JFC Tribal Grandeur ini diisi dengan Pets Carnival yang menampilkan berbagai binatang peliharaan yang unik. Ada anjing, kucing, ular, iguana dan lainnya.

Ini adalah gelaran Pets Carnival yang kedua kalinya sejak dilaunching pada 2018 lalu. Meski termasuk venue yang masih baru, namun antusias warga begitu meriah.

Ketua Yayasan JFC Budi Setiawan mengatakan, Pets Carnival diadakan sebagai kepedulian kepada hewan dan lingkungan.

“Hewan harus bebas dari rasa lapar, bebas dari rasa takut dan ketidaknyamanan psikis serta bebas mengekspresikan perilaku alaminya,” kata Budi dalam sambutannya.

Pets Carnival JFC 2019 tersebut dilepas oleh Bupati Jember dr. Faida yang diwakili Asisten Administrasi Pemerintahan Sekretaris Daerah Jember, Soeprapto.

Menyampaikan pesan Bupati Jember, Soeprapto mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Diperkirakan, sebanyak 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia terdapat di Indonesia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan dunia.

“Kekayaan satwa, khususnya satwa langka yang nyaris punah, merupakan salah satu aset bangsa yang sudah sepatutnya kita jaga dan lestarikan. Karena, upaya pelestarian satwa-satwa yang ada merupakan tanggung jawab semua pihak,” kata Faida sebagaimana yang disampaikan Soeprapto.

Berbicara mengenai pelestarian satwa, dia mengatakan bahwa upaya ini bertujuan untuk mempertahankan kehidupan spesies hewan yang makin sedikit.

Menurutnya, hal ini sesuai kenyataan di lapangan, bahwa ada beberapa jenis spesies binatang yang makin sulit dijumpai.

“Bahkan, ada beberapa jenis binatang yang ditenggarai sudah musnah sama sekali dan tidak lagi dijumpai di alam bebas,” ujarnya.

Adapun jadwal selanjutnya pada karnaval fesyen JFC Tribal Grandeur di antaranya Kids and Artwear Carnival pada 2 agustus, WACI Carnival pada 3 agustus, dan Grand Carnival pada 4 agustus 2019.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Mariska

Tinggalkan Balasan