Disparbud Jember akan Berdayakan Pemenang Desain Mural Nasional

oleh -56 views
Kepala Disparbud Jember, Arif Tjahyono saat memberikan hadiah kepada juara 1 desain mural nasional, Subki asal Magelang. (Foto: Guntur Rahmatullah/SI)

JEMBER, Minggu (10/12/2017) suaraindonesia-news.com – Sebanyak 3 orang pemenang lomba desain mural tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember akan diberdayakan untuk keindahan Kota Jember.

Kepala Disparbud Jember, Arif Tjahyono mengatakan pihaknya sengaja menggelar lomba desain mural tingkat nasional, sebagai wujud apresiasi kepada para seniman mural.

“Seniman dan Budayawan harus diapresiasi, apresiasinya dengan kompetisi ini,” terangnya kepada media ini, Sabtu (9/12) tadi malam.

Bertempat di Pantai Watu Ulo, Ambulu, perlombaan yang diikuti oleh 85 peserta dari 4 propinsi tersebut, menghasilkan 10 orang juara harapan besar dan 3 orang juara utama.

3 orang juara utama itu di antaranya pemenang ketiga diraih oleh Indahsari dari Probolinggo, kedua diraih oleh M. Assaidana dari Batu, dan juara pertama diraih oleh Subki dari Magelang, ketiganya selain memperoleh hadiah berupa uang tunai, juga akan diberdayakan lebih lanjut oleh Disparbud setempat.

“Kami akan berdayakan lebih lanjut, untuk keindahan Jember, menunggu instruksi lanjutan dari Bupati,” terang Arif.

Salah satu pemenang, juara pertama, Subki mrnyampaikan rasa gembiranya kepada media ini. “Alhamdulillah dapat juara 1, sangat bahagia sekali,” ucap Subki, Seniman Mural asal Magelang.

Seniman yang mempunyai pekerjaan utama seorang penyedia jasa reklame itu menceritakan bahwa perjuangannya dalam menggeluti dunia seni rupa telah dimulainya sejak 1998 hingga saat ini, lanjut Subki, selanjutnya akan berusaha mengembangkan ilmu dengan mengajarkan ilmunya kepada generasi muda.

“Memang ada niatan ke depannya saya akan buka les, namun untuk saat ini belum karena kesibukan kerja yang banyak menyita waktu,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu juri, Mikke Susanto menerangkan aspek penting dari sebuah karya design mural.

Menurutnya, mural berbeda dengan graffiti, perbedaan yang paling tampak ialah pada kebebasan penggunaan bahan serta karya yang dihasilkan.

Sifat mural lebih bebas, tidak hanya dalam bentuk tulisan, dimana peruntukannya lebih kepada tujuan sosial. Sedangkan grafiti terbatas pada bentuk tulisan saja.

Ada 3 poin besar dalam menilai sebuah karya Mural, di antaranya :

1. Kontennya, sejauh mana pemikiran sang seniman dalam menuangkan ide-idenya untuk menyampaikan pesan.

2. Gayanya, apakah itu realis, dekoratif, abstrak, semi abstrak, untuk menentukan gaya apa yang akan mempermudah pesan bisa tersampaikan ke para pengunjung atau pengguna jalan.

3. Tekniknya, kemampuan mengolah detil serta pengolahan warna.

“Sebelum mengaplikasikan ke dinding, sebuah design mural haruslah dirancang sebaik mungkin,” tutur Mikke.

Mural diberdayakan sebagai fungsi sosial, lanjut Mikke, yang merupakan wujud keterwakilan rakyat kepada kotanya. (Gun/Jie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *