BALIKPAPAN, Kamis (8/10) suaraindoensia-news.com – Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, masih menghadapi tantangan serius terkait pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warganya.
Saat ini, terdapat selisih hingga 1.000 liter per detik antara tingkat kebutuhan masyarakat dengan kapasitas produksi air bersih yang mampu disediakan Pemerintah Kota Balikpapan
Merespons kondisi krisis air bersih tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melakukan peninjauan langsung ke Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Sumur Dalam di Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kamis (8/10) sore.
Kunjungan lapangan ini dilakukan guna mengevaluasi efektivitas sumber air baku alternatif serta merumuskan strategi percepatan pemenuhan pasokan air bersih jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang bagi masyarakat Balikpapan.
Dalam keterangan persnya di lokasi IPAM Teritip, Menko AHY memaparkan bahwa kesenjangan antara ketersediaan pasokan air dan pertumbuhan jumlah penduduk di Balikpapan memerlukan penanganan yang terukur dan berkelanjutan.
AHY merinci, total kebutuhan air bersih Kota Balikpapan saat ini mencapai sekitar 2.500 liter per detik. Namun, akumulasi produksi pasokan air dari seluruh fasilitas pengolahan yang ada baru menyentuh angka 1.500 liter per detik.
”Balikpapan masih sangat membutuhkan suplai air. Hari ini tersedia 1.500 liter per detik, sementara kebutuhannya kurang lebih 2.500 liter per detik. Selisih ini yang harus terus kita kejar secara bertahap,” tegas AHY di hadapan awak media dan jajaran teknis di Teritip.
Guna menutup jurang defisit tersebut, pemerintah pusat mendorong pemanfaatan sumber air baku alternatif, salah satunya melalui penambangan air tanah dalam atau sumur dalam (deep well).
Fasilitas IPAM Sumur Dalam Teritip menjadi salah satu contoh konkrit langkah taktis mengatasi kelangkaan air di kawasan pinggiran kota. Saat ini, IPAM Teritip memproduksi air bersih berkapasitas 10 liter per detik yang bersumber dari sumur dalam dan telah terdistribusi langsung ke rumah-rumah warga.
Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Yudhi Saharuddin, yang turut mendampingi kunjungan Menko AHY, menjelaskan bahwa produksi 10 liter per detik tersebut saat ini melayani 1.089 kepala keluarga (KK) di wilayah Kelurahan Teritip dan sekitarnya.
Namun, Yudhi menggarisbawahi bahwa kapasitas fasilitas di Teritip belum dimaksimalkan sepenuhnya dan menyimpan potensi ekspansi yang cukup signifikan.
”Kapasitas produksi saat ini baru 10 liter per detik di sini dan melayani 1.089 rumah. Sebenarnya kami memiliki dua sumur dalam di lokasi ini, dan kapasitas produksinya secara keseluruhan berpotensi ditingkatkan hingga 30 liter per detik,” ungkap Yudhi Saharuddin.
Jika rencana optimalisasi dan penambahan peralatan teknis pada kedua sumur dalam tersebut terealisasi, PTMB mengkalkulasi cakupan layanan air bersih di Balikpapan Timur dapat diperluas hingga mencapai 2.000 rumah warga.
Menko AHY menekankan bahwa akselerasi penyediaan air bersih tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan harian, melainkan juga sebagai langkah mitigasi bencana kekeringan, khususnya ancaman fenomena iklim El Niño.
”Tidak boleh ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama di masa kemarau dan El Nino berkepanjangan. Akses air bersih adalah hak mendasar publik yang wajib dijamin oleh pemerintah,” ujar Menko AHY.
Kendati pengoperasian sumur dalam sangat membantu untuk jangka pendek, AHY mengakui bahwa solusi permanen untuk kota sebesar Balikpapan membutuhkan pasokan air permukaan berskala besar. Salah satu opsi strategis yang sedang dikaji secara mendalam adalah mengalirkan suplai air dari Bendungan Sepaku Semoi, yang saat ini menjadi penopang utama pasokan air di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Meski demikian, wacana interkoneksi jaringan air dari Sepaku Semoi ke Balikpapan membutuhkan perhitungan finansial dan teknis yang sangat cermat mengingat jarak geografis yang terbilang jauh.
”Yang paling signifikan tentu kalau kita bisa mendapatkan aliran air dari Sepaku Semoi. Namun karena jaraknya cukup jauh, kita perlu menghitung ulang perencanaan teknisnya secara mendetail karena memang membutuhkan alokasi anggaran yang sangat besar,” jelas AHY.
Menutup kunjungannya, Menko AHY memastikan bahwa Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan akan mengawal secara ketat sinergi antar-lembaga guna memastikan program percepatan air bersih Balikpapan berjalan sesuai tenggat waktu.
Langkah ini melibatkan kerja sama lintas instansi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Timur, serta badan usaha milik daerah PTMB.
AHY menegaskan, strategi penambahan kapasitas air di Balikpapan tidak harus menunggu proyek bernilai besar selesai, melainkan harus dibarengi dengan langkah-langkah bertahap yang konsisten.
”Walaupun tidak bisa langsung besar suplai yang bisa kita tambahkan, tetapi yang terpenting adalah selalu ada progres dan selalu ada kemajuan. Sepuluh liter per detik kita optimalkan, lalu kita tambah lagi 10 liter, dan seterusnya secara terencana untuk jangka panjang,” pungkas AHY.












