BeritaNewsPemerintahan

Tirta Pakuan Bogor Fokus Penataan Aset dan Pengembangan Bisnis Non-Air untuk Tingkatkan PAD

129
×

Tirta Pakuan Bogor Fokus Penataan Aset dan Pengembangan Bisnis Non-Air untuk Tingkatkan PAD

Sebarkan artikel ini
IMG 20260424 125941
Foto: Direktur Pelayanan dan Bisnis, Muzakkir Abdullah saat dirusngan kerjanya.

KOTA BOGOR, Jumat (24/04) suaraindonesia-new.com – Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor terus melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat. Di bawah kepemimpinan Direktur Pelayanan dan Bisnis yang baru, Muzakkir Abdullah, perusahaan daerah ini fokus pada penataan aset serta pengembangan bisnis non-air.

Salah satu langkah utama dalam jangka pendek adalah pendataan dan penataan status aset perusahaan. Muzakkir mengungkapkan masih terdapat sejumlah aset Tirta Pakuan yang status kepemilikannya belum jelas, baik yang masih tercatat atas nama Pemerintah Kota Bogor maupun Perumnas.

“Kami sedang merapikan semuanya. Jika aset tersebut milik Pemkot, kami akan menyewa atau menempuh proses penyertaan modal pemerintah (PMP) agar statusnya jelas dan lebih mudah dikelola,” ujarnya.

Penataan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan melalui proses pemetaan yang menyeluruh.

Selain layanan air bersih yang sudah berjalan, Tirta Pakuan juga mulai mengembangkan potensi bisnis turunan air, seperti penjualan air curah dan rencana produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

“Produksi air kita saat ini masih berlebih dibandingkan kebutuhan yang disalurkan, sehingga sangat memungkinkan untuk mengembangkan bisnis air curah maupun AMDK,” tambahnya.

Di sektor pelayanan, Tirta Pakuan juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat serta pelaku usaha seperti hotel, restoran, dan perkantoran agar beralih dari penggunaan air tanah ke layanan air PDAM. Langkah ini dinilai penting tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga untuk menjaga kesehatan masyarakat.

“Air tanah sering kali tercemar, bahkan ada yang mengandung bakteri E. coli meskipun terlihat bersih secara kasat mata. Ini berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak,” tegas Muzakkir.

Selain itu, Tirta Pakuan membuka peluang kerja sama dengan investor untuk mengoptimalkan aset strategis perusahaan. Sejumlah titik aset di pusat kota direncanakan untuk dikembangkan menjadi area komersial seperti kafe, restoran, hingga fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.

Sementara itu, aset perusahaan di luar kota seperti di Ciaruteun, Kabupaten Bogor, telah mulai dikerjasamakan dengan pihak swasta untuk pengembangan destinasi wisata arung jeram.

“Prinsipnya kami berbicara bisnis. Pengusaha mendapat keuntungan dan kami sebagai pemilik aset juga memperoleh manfaat, yang pada akhirnya akan menambah PAD Kota Bogor,” katanya.

Terkait sistem pembayaran, Tirta Pakuan menerapkan tujuh klaster harga atau golongan tarif yang disesuaikan dengan profil pelanggan, mulai dari luas bangunan hingga lokasi rumah. Golongan 1 hingga 3 masih mendapatkan subsidi, sedangkan titik impas baru tercapai pada golongan 4. Sementara golongan 5 ke atas mulai memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Kebijakan tersebut diterapkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan agar layanan air bersih tetap dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat di Kota Bogor.

Tinggalkan Balasan