Polisi Minta Pengelola Paralayang Memperhatikan Keselamatan Atlet

Kasat reskrim Polres Batu AKP Dzaki Zulkarnaim saat ditemui usai olah TKP

KOTA BATU, Jumat (6/10/2017) suaraindonesia-news.com – Polisi meminta kepada atlet paralayang (Paragliding) yang tergabung dalam Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) dan pengelola Paralayang di kawasan gunung banyak Songgoriti Kota Batu untuk lebih mengutamakan keselamatan atlet dan pengguna Paralayang.

Dalam kurun waktu 2014 hingga 2017, setidaknya ada dua Atlet professional yang menjadi korban paralayang, tahun 2014 Dr Santoso Budiharjo atlet asal kota Batu yang juga wakil Jatim meningggal dunia.

Dan tahun 2017 tepatnya Kamis (5/10), salah satu anggota DPRD Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Syaiful Iqbal Ashofa (40), juga menjadi korban.

Kedua atlet yang telah mengharumkan nama daerahnya dan memiliki lisensi pilot 2 (senior) dan memiliki lisensi tandem 1 itu tewas akibat cuaca buruk, angin kencang secara tiba-tiba, mereka gagal menguasahi kendali.

Baca Juga: Diterjang Angin, Anggota DPRD Kabupaten Muara Enim Tewas Terjatuh Saat Paralayang

Suparman salah satu penghuni Villa di Kawasan Songgoriti saat ditemui, Jumat (6/10) mengaku kecelakaan kepada atlet paralayang Syaiful Iqbal Ashofa (40) bukanlah yang pertama sebelumnya Dr Santoso juga mengalami kecelakaan.

“Di areal sini juga sering terjadi kecelakaan, atlet jatuh tidak tepat sasaran itu sudah biasa, jatuh dipersawahan, dipemukiman penduduk, tapi biasanya selamat dan biasa-biasa saja, hanya luka lancet-lencet saja, tetapi yang meninggal kemarin itu jatuhnya di jalan beraspal,” kata Suparman.

Sedang Kasat reskrim Polres Batu AKP Dzaki Zulkarnaim saat ditemui usai olah TKP, Ia meminta kepada para atlet dan pengguna paralayang memperhatikan keselamatannya, pengelola harus memeperhatikan cuaca dan jam take off (mengudara) dan jam Landing (pendaratan).

Iklan Lowongan Jurnalis

“Kalau tidak memungkinkan untuk take off lebih baik tidak usah dipaksakan dari pada beresiko, pengelola harus memperhatikan cuaca, kecepatan angin. Dan menjelang petang mestinya tidak usah dilakukan karena biasanya beresiko terjadinya angin kencang,” jelasnya.

Ia memilihat berdasarkan hasil olah TKP dan berdasarkan keterangan saksi bahwa setelah korban melakukan take off beberapa menit kemudian terjadi turbulensi pusaran angin sehingga alat paralayang itu melipat.

“Dari hasil olah TKP terhadap barang bukti itu tidak ada kerusakan yang siknifikan terhadap alat paralayang, hasil visum itu telah terjadi benturan dengan benda keras, sehingga tengkorak belakang itu retak, jatuhnya diaspal jalan, akhirnya meninggal dunia,” ungkap Dzaki Zulkifli.

Menurutnya kejadian yang dialami oleh salah seorang anggota DPRD Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Syaiful Iqbal Ashofa (40) itu salah satu faktornya adalah karena cuaca, karena korban tidak mampu mengendalikan kemudi karena terpaan angin begitu kencang meski parasut sempat mengembang.

“Dari segi SOP sudah dilaksanakan, kita masih melakukan penyelidikan, kira-kira apa yang menjadi penyebab kecelakaan itu, kita akan mencari bukti tambahan. Ini yang perlu kita dalami, mungkin ada bukti lain yang kita peroleh,” kata dia. (Adi Wiyono)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here