Gus Mamak: Problema Dunia Pendidikan Sampang, Terjadi Dikotomi Sekolah Negeri dan Swasta

oleh -88 views
FOTO : KH Muhammad Bin Mu'afi Zaini (Gus Mamak) berfoto bersama pemuda dan Mahasiswa Kec Karang Penang usai acara Serasehan tentang pendidikan. (FT/Nor/SI)

SAMPANG, Minggu (30/6) suaraindonesia-news.com – Ada ungkapan menarik terkait problema dunia pendidikan Sampang, disampaikan KH Muhammad Bin Mu’afi Zaini (Gus Mamak), dalam acara serasehan dengan tema Akselerasi Peran Generasi Muda Melalui Pendidikan Menuju Indonesia Emas Tahun 2045, bersama Paguyuban Karang Penang dan Mahasiswa di salah satu Cafe di Kecamatan Karang Penang, Sabtu (29/6/2024).

Gus Mamak, yang anggota DPRD Jawa Timur dan Ketua DPD Partai Golkar serta pengasuh Ponpes Besar Nazhatut Thullab dan pemilik beberapa lembaga pendidikan mulai SMP, MTs, SMA, SMK, MA dan Universitas Nazhatut Thullab Al Muafa ini mengungkapkan, salah satu permasalahan mendasar yang menjadi problematika dunia pendidikan di Sampang, terjadinya dikotomi Sekolah Negeri dan Swasta.

Dikatakan, itu terjadi baik yang berada dibawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kemenag Sampang. Dengan munculnya stigma yang tidak sama ini, menimbulkan potensi gejolak saling menjatuhkan. Sehingga, membuat bingung pada masyarakat.

Baca Juga: Wujud Kepedulian, Pemkab Sampang Kembali Santuni Anak Yatim

Bahkan, ada lembaga pendidikan yang secara operasional sistem sudah berjalan tapi tidak terakomodir, akibat aspek regulasi maupun aturan. Harusnya, pemerintah memberlakukan standard yang sama dan mendorong terjadinya persaingan yang sehat.

“Dikotomi pendidikan itu harus dihindari antara sekolah Negeri dan Swasta. Karena, tidak ada perbedaan antara sekolah Negeri dan Swasta harus sama. Masalah kwalitas, tergantung sekolahnya. Karena, tidak semua sekolah Negeri baik dan tidak semua sekolah swasta juga buruk,” ujarnya.

Lebih jauh Gus Mamak mengungkapkan, permasalahan dunia pendidikan Sampang, juga tidak bisa lepas dari peran tenaga pendidik sekalipun statusnya sebagai guru honor. Fenomena yang terjadi di wilayah pedesaan, peran guru honor sangat dominan untuk mengatasi keterbatasan tenaga guru yang ASN.

“Selama ini insentif yang diterima guru honor non sertifikasi berkisar 300 ribu hingga 500 ribu, bagaimana mau meningkatkan kapasitas, kompetensi dan SDM,” imbuhnya.

Untuk itu, ia mengajak para pemuda dan mahasiswa agar memberikan kontribusi gagasan dan pemikiran untuk kemajuan dunia pendidikan di Kabupaten Sampang.

Terakhir, Gus Mamak juga mengungkap problematika dunia pendidikan secara Nasional. Menurutnya, karena kerap kali pergantian kurikulum dan seragam. Sehingga, berdampak terhadap sistem pendidikan yang sedang berlangsung. Terutama, ditingkat wilayah kabupaten/kota dan kecamatan serta desa.

Reporter: Nora
Editor: Amin
Publisher: Eka Putri

Tinggalkan Balasan