MALANG, Minggu (20/09) suaraindonesia-news.com – Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati setiap 23 September, Grand Mercure Malang Mirama kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas dan inklusif.
Bekerja sama dengan yayasan pemerhati disabilitas Omah Gembira, Grand Mercure Malang Mirama menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif berupa talkshow bertajuk “Indahnya Bincang Isyarat”. Kegiatan tersebut membahas advokasi hak kerja teman tuli dan pelayanan yang ramah disabilitas.
Selain talkshow, kegiatan juga dirangkai dengan kelas pelatihan bahasa isyarat yang diberikan secara gratis kepada karyawan atau heartists Grand Mercure Malang Mirama serta masyarakat umum.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesetaraan aksesibilitas sekaligus memberikan keterampilan komunikasi nonverbal kepada peserta.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan setiap tamu, termasuk penyandang disabilitas rungu atau tuli, dapat memperoleh pengalaman menginap dan pelayanan yang hangat, aman, serta minim hambatan komunikasi.
Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari pilar keberlanjutan dan kepedulian sosial hotel. Inklusivitas diupayakan menjadi bagian dari budaya pelayanan sehari-hari.
Melalui kolaborasi dengan Omah Gembira, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar bahasa isyarat serta etika berinteraksi dengan teman tuli secara ramah dan suportif.
“Sebagai hotel yang berkomitmen menerapkan prinsip ramah disabilitas, kami percaya bahwa pelayanan terbaik berasal dari pemahaman dan kesetaraan. Melalui kolaborasi dengan Omah Gembira ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh heartists kami siap memberikan pelayanan yang inklusif bagi seluruh tamu tanpa terkecuali,” ujar Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama dan Mercure Surabaya Grand Mirama.
Selain pelatihan bagi staf dan masyarakat umum, kegiatan tersebut juga membuka ruang diskusi interaktif mengenai pentingnya menciptakan ruang publik dan fasilitas akomodasi yang semakin mudah diakses oleh seluruh masyarakat di Kota Malang.
Ketua Yayasan Omah Gembira, Riza Agung, mengatakan inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi dan empati tanpa hambatan.
“Inklusivitas bukan sekadar menyediakan fasilitas fisik, tetapi bagaimana kita mampu berkomunikasi dan membangun empati tanpa hambatan. Kolaborasi bersama Grand Mercure Malang Mirama ini bukan yang pertama kali sehingga ini menjadi langkah nyata yang sangat luar biasa dalam membuka ruang kesetaraan,” ujar Riza Agung.
Menurutnya, melalui kelas bahasa isyarat tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh kemampuan berkomunikasi secara nonverbal, tetapi juga memahami cara menyambut dan berinteraksi dengan teman tuli secara hangat, ramah, dan penuh penghormatan.
Melalui kegiatan tersebut, Grand Mercure Malang Mirama berharap kolaborasi dan edukasi mengenai bahasa isyarat dapat menjadi bagian dari upaya mendorong lingkungan yang lebih inklusif serta ramah bagi penyandang disabilitas.
Pihak hotel juga berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi pelaku industri hospitality lainnya untuk terus meningkatkan aksesibilitas dan pelayanan bagi penyandang disabilitas.












