JAKARTA, Sabtu (19/07) suaraindonesia-news.com – Universitas Paramadina kembali menyelenggarakan program Meet The Leaders dengan menghadirkan Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, sebagai pembicara utama. Dalam forum bertajuk “Driving Inclusive Growth: Innovation, Industrialization and Energy Transition for Job Creation”, Arsjad menyampaikan berbagai tantangan dan strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Acara yang berlangsung di Auditorium Benny Subianto, Kampus Paramadina Kuningan, dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D. dan dipandu oleh ekonom Wijayanto Samirin, MPP.
Dalam paparannya, Arsjad menyoroti dinamika geopolitik global yang berdampak pada kondisi ekonomi nasional. Ia mengungkapkan bahwa peristiwa internasional seperti konflik di Timur Tengah, dampak kebijakan politik Amerika Serikat, serta perang Ukraina–Rusia, turut mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi, termasuk di negara mitra dagang utama seperti Tiongkok.
Namun, menurutnya, permasalahan utama Indonesia saat ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, melainkan daya beli masyarakat yang terus menurun.
“Kondisi daya beli masyarakat kita saat ini sangat lemah. Banyak orang tidak punya cukup uang, sehingga konsumsi turun,” ujar Arsjad.
Ia juga menyoroti persoalan ketenagakerjaan. Meskipun tingkat pengangguran terbuka menurun, jumlah pengangguran tercatat masih lebih dari 7,28 juta orang, dengan sekitar 60 persen tenaga kerja berada di sektor informal. Hal ini, menurut Arsjad, menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal dan rapuhnya struktur ekonomi nasional.
Arsjad menambahkan, iklim investasi yang diharapkan dapat menyerap tenaga kerja justru lebih banyak bersifat padat modal ketimbang padat karya.
“Tantangan investasi di Indonesia masih kompleks, mulai dari persoalan perizinan, pertanahan, hingga ketertiban di lapangan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tren migrasi tenaga kerja terampil ke luar negeri yang semakin meningkat. Banyak profesi seperti perawat, ahli IT, dan insinyur memilih bekerja di luar negeri karena upah dan fasilitas sosial yang lebih baik.
“Ini bukan soal kurangnya nasionalisme, tapi karena peluang dan kesejahteraan lebih terbuka di luar negeri,” ujarnya.
Melihat berbagai tantangan tersebut, Arsjad menawarkan pendekatan strategis yang ia sebut 3G: Grow People, Gear Up Industry, dan Go Green.
Grow People difokuskan pada pembangunan manusia Indonesia agar mampu bersaing secara global, tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pemimpin dan inovator. Namun ia menyoroti bahwa sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih berlatar belakang pendidikan dasar dan menengah.
“Saat ini, hanya sekitar 10 persen yang lulusan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Gear Up Industry menekankan pentingnya reindustrialisasi berbasis nilai tambah untuk menciptakan lapangan kerja dan pemerataan pertumbuhan. Strategi ini mencakup hilirisasi mineral, pengembangan manufaktur strategis, serta ekspansi industri ke luar Pulau Jawa dengan melibatkan UMKM secara aktif. Potensi tambahan kontribusi ke Produk Domestik Bruto (PDB) disebut bisa mencapai USD 25 miliar.
Go Green merespons transisi energi sebagai peluang pertumbuhan ekonomi masa depan. Ini meliputi pelatihan ulang (re-skilling) bagi pekerja dari sektor tinggi emisi, pembiayaan hijau untuk UMKM, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proyek energi ramah lingkungan.
Acara ini menjadi wadah reflektif sekaligus inspiratif bagi sivitas akademika Universitas Paramadina dan masyarakat luas. Dengan semangat “Bertemu, Terinspirasi, Menjadi”, pihak universitas menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan tokoh-tokoh nasional demi memperluas wawasan dan mendorong lahirnya kepemimpinan masa depan.












