Dian Qohiriyah, Mantan Karyawan GM Toserba Kota Probolinggo Wadul SBSI

Foto: GM Toserba, di jalan Dr. Sutomo 42 Kota Probolinggo. 

PROBOLINGGO, Minggu (01/10/2017) suaraindonesia-news.com – Dian Qohiriyah (21) mantan karyawan GM Toserba Kota Probolinggo, warga Perumahan Asabri Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo, Jumat (29/10) lalu mendatangi Kantor Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) di Perumahan Kentangan Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo.

Ia datang ke Kantor SBSI untuk mengadukan nasibnya, karna selama berkerja di toko Graha Mulia (GM) Toserba yang terletak di jl.Dr soetomo no.42 kota Probolinggo hanya di gaji di bawah Upah Minimum Kota (UMK).

Dian mengaku, terhitung sejak bulan juni lalu dirinya berhenti bekerja di GM Toserba, namun hingga saat ini ia belum menerima haknya sesuai yang di janjikan pihak GM Toserba sebesar Rp.500.000,-Uang tersebut, menurut Dian merupakan sebagian dari gajinya yang di potong tiap bulan, dengan alasan sebagai jaminan apabila di kemudian hari karyawan berhenti.

Baca Juga: Wabub Pamekasan Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila di Lapangan Pendopo Ronggosukowati

Uang itu bisa diambil, tapi dengan catatan diberhentikan atau mengundurkan diri. “Saya sudah mencoba menemui dan meminta hak saya, tapi pihak menegemen GM Toserba selalu alasan sibuk,” ujar Dian.

Dia membeberkan, “Kerja bulan pertama sampai bulan ketiga, saya di bayar harian, sehari Rp.30.000 dan selama itu gaji saya di potong tiap bulan nya sebesar Rp 150.000. Bulan ke empatnya saya di bayar Rp 35.000 perhari, lalu di potong Rp 200.000,-.  Bukan hanya itu saja, di bulan berikutnya ada potongan seragam sebesar Rp 250.000,-, jadi selama saya kerja di GM Toserba mendapatkan gaji Rp 800.000 di transfer lewat nomer rekening”, bebernya.

Menanggapi aduan Dian Qohiriyah tersebut, Ketua Serikat Buruh Sejahera Indonesia (SBSI) Probolinggo, Satrio Hajar Wiguno mengatakan “Pihak GM Toserba bisa dikatakan tidak melaksanakan kewajibanya sesuai amanat Undang Undang ke Tenaga Kerjaan, sebagaimana yang tertuang didalam UU Nomer 13 Tahun 2003, yang salah satu pasalnya berbunyi, “Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum pekerja”.  Dan apabila hal itu di langgar maka selanjutnya pada Pasal 185, berbunyi  “Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan atau denda paling sedikit Rp.100.000.000,- dan paling banyak Rp. 400.000.000,-“

GM Toserba, menurut Satrio, termasuk perusahaan, yang sesuai klausul wajib menjalankan hak normatif pekerja, seperti halnya gaji sesuai UMK. Disamping itu GM Toserba juga harus mengikutkan pekerja di BPJS ke Tenagakerjaan, cuti dan lain lain. Sementara karyawan digaji dibawah UMK, maka seharusnya kekurangan pembayaranya wajib dibayarkan, terangnya.

Terpisah, pihak Graha Mulya Toserba, Ficke selaku kepala area di konfirmasi mengatakan, bahwa karyawan baru memang di gaji harian sebesar Rp. 35.000,-.

Ficke juga mengakui Pemotongan gaji karyawan sebesar Rp.150.000,- tiap bulanya itu sebagai uang jaminan pengganti ijazah yang akan dikembalikan pada pekerja tersebut jika telah berhenti bekerja. “iya mas, potongan itu memang ada namun hal itu dimaksudkan sebagai uang Jaminan, itu sudah diketahui karyawan sebelum teken kontrak, ucapnya.

Bahkan Ficke menjelaskan kontrak maupun SOP dari pihak GM Toserba pada karyawan juga sudah diketahui oleh pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Probolinggo, tambahnya. (singgih).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here