ABDYA, Minggu (19/4) suaraindonesia-news.com – Nelayan tradisional di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memilih tidak melaut menyusul angin kencang yang melanda perairan setempat dalam tiga hari terakhir. Kondisi cuaca ekstrem tersebut dinilai membahayakan keselamatan, terutama bagi nelayan yang menggunakan perahu kayu bermesin robin.
Salah seorang nelayan, Aliyani (55), warga Alue Dama, mengatakan angin kencang terjadi sejak beberapa hari terakhir dan hingga kini masih berlangsung, khususnya di wilayah pesisir Dusun Kuta Meurandeh. Hal itu disampaikannya di sela aktivitas menarik pukat darat di pesisir gampong setempat.
“Angin kencang sudah melanda beberapa hari lalu, hingga hari ini masih terjadi. Kencangnya angin menimbulkan ombak tinggi yang mengancam perahu dan keselamatan nelayan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi angin di laut tidak dapat diprediksi. Pada pagi hari, saat nelayan berangkat, cuaca bisa terlihat normal. Namun, ketika perahu sudah keluar dari muara, angin kencang dapat datang secara tiba-tiba.
“Dalam kondisi seperti itu, ada nelayan yang memilih kembali ke darat, tetapi ada juga yang tetap melanjutkan mencari ikan,” katanya.
Menurut Aliyani, meskipun sebagian nelayan masih melaut, hasil tangkapan tidak maksimal seperti biasanya. Bahkan, banyak yang mengalami kerugian akibat minimnya hasil tangkapan.
“Walaupun aktivitas melaut tidak normal, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami bersama kawan-kawan tetap membentangkan pukat di pinggir laut,” ujarnya.
Sementara itu, mantan Penjabat (Pj) Keuchik Alue Dama, M. Rais, menyebutkan nelayan perahu robin telah hampir sepekan tidak melaut akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.
“Jika tetap melaut, risikonya terlalu tinggi. Pemerintah juga sudah mengingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas di lokasi rawan bencana,” katanya.
Meski demikian, ia menambahkan para nelayan tetap melakukan aktivitas alternatif dengan menggunakan pukat darat guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.












