Sekdes Soddara Samsul Arifin Tak Terbesit Ingin jadi Sekdes, Bukti Kepercayaan Warga

oleh -47 views
Samsul Arifin, Sekdes Soddara, Kecamatan Pasongsongan.

SUMENEP, Selasa (19/3/2019) suaraindonesia-news.com – Sosoknya yang menarik dan bersahaja. Meski menjadi Sekretaris Desa (Sekdes) termuda di Kecamatan Pasongsongan, bahkan di Kabupaten Sumenep, Samsul Arifin lebih sering tampil dengan gaya sederhana. Bahkan Sekdes Soddara itu cenderung nyentrik.

Encunk begitu ia biasa disapa, lahir dari pasangan Miftahul Arifin dan Taslima. Pria kelahiran Sumenep, 27 Juni 1985 itu, merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Jenjang studi ia habiskan di tanah kelahiran, mulai dari Sekolah Dasara Negri (SDN) Soddara I hingga Madrasah Aliyah (MA) di TMI (Tarbiyatul Mualimien Al Islamiyah) pondok pesantren modern Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Juara kelas saat sekolah pun pernah ia cicipi.

Pria yang memiliki hobi berinvestasi ini, menjatuhkan pilihan sekolahnya di lembaga Madrasah. Bahkan, ia juga sempat mengabdi menjadi seorang guru pondok pesantren modern Al Amien Prenduan, Sumenep, yang mengajarkan Bahasa Ingris.

“Setelah lulus MA, saya sempat mengabdi di Al Amien Prenduan yang merupakan tempat saya menimba ilmu,” terang suami dari Wuri Purnama Sari itu.

Sejak kecil Sekdes muda ini memiliki cita-cita ingin jadi seorang pengusaha bukan jadi perangkat Desa. Alasannya cukup sederhana, jika ia bisa sukses bisa berbagi dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Saya lihat seorang pengusaha sukses, di hati saya ngomong semoga kelak saya bisa jadi pengusaha yang sukses, biar bisa berbagi ya Allah,” ucap Encunk, sambil mengenang masa kecilnya ini.

Pria murah senyum ini menerangkan, tidak terbesit niatan sedikit pun untuk menjadi perangkat Desa November 2007 lalu itu. Lantaran permintaan kuat warga Soddara, ia nurut saja.

Ditegaskan Encung, prosesnya cukup sederhana, ia mengaku tiba-tiba dipanggil kepala Desa Soddara, dan langsung dikeluarkan SK pengangkatan sebagai Sekdes Soddara. Bahkan ia mengaku tidak faham sama sekali seluk beluk di pemerintahan Desa.

“Ia mau bagaimana lagi kalau sudah permintaan warga melalui kepala Desa, saya iakan saja agar warga tidak kecewa,” kisahnya sembari tersenyum.

Pria dengan tinggi badan 164 cm itu meyakini, tidak ada kerugian mengikuti permintaan warga. Bahkan menurutnya, jika ia tidak memenuhi permintaan warga, maka bukan tidak mungkin warga akan kecewa.

“Saya sendiri tidak faham apa alasan warga meminta saya menjabat sebagai Sekdes, yang pasti saya tiba-tiba begitu saja diminta untuk aktif di Desa untuk mengisi posisi sebagai Sekdes,” tukas Ayah dari Lingga Gabril Azegaf dan Naila Nuzlan Azzahra itu. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *