Produksi Jamu Presiden, DPC Rumah Jokowi Jember Jajaki Kerjasama dengan UKM King Betiri

oleh
Audiensi DPC Rumah Jokowi dengan UKM King Betiri pada Sabtu malam, 21 Maret 2020. (Foto: Guntur Rahmatullah).

JEMBER, Minggu (22/3/2020) suaraindonesia-news.com – Dewan Pengelola Cabang (DPC) Rumah Jokowi Jember berencana akan menjalin kerjasama dengan UKM King Betiri untuk memproduksi jamu herbal yang akan diberi nama Jamu Presiden.

“Kami akan memasarkan Jamu Presiden, di sini kami melakukan penjajakan kerjasama dengan pihak UKM King Betiri untuk memproduksi resep Jamu Presiden,” ungkap Ketua DPC Rumah Jokowi Jember, Fendik Triyono pada Sabtu malam, 21 Maret 2020.

Sejak dilaunchingnya program rumah sehat, sambung Fendik, animo masyarakat terhadap jamu tradisional atau empon-empon yang menjadi minuman sehari-hari Presiden Jokowi itu mempunyai daya tarik yang tinggi.

Selain itu, Fendik juga berharap masyarakat Indonesia kembali terbiasa mengonsumsi jamu dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita akan membuka pasar sebesar-besarnya sehingga dapat meningkatkan penghasilan para warga yang tergabung dalam UKM King Betiri,” tambah dia.

Fendik membeberkan alasan dipilihnya UKM King Betiri sebagai mitra dalam mengembangkan Jamu Presiden.

“Kenapa kami harus bermitra dengan UKM King Betiri, karena kelompok usaha ini beranggotakan masyarakat lokal di Kabupaten Jember yakni masyarakat di sekitar Taman Nasional Meru Betiri. Kedua adalah produk minuman khas Jember dengan bahan baku langsung dari TN Meru Betiri,” jelas dia.

Sementara itu, Pendiri UKM King Betiri, Riyadi menyampaikan terima kasih atas dipilihnya UKM King Betiri sebagai mitra produksi Jamu Presiden.

“Dengan kerjasama ini, dapat menyejahterakan anggota kelompok yakni warga sekitar sini,” kata Riyadi.

Selain itu, Riyadi berharap apa yang menjadi tujuan Rumah Jokowi juga bisa tercapai.

“Juga kami berharap tradisi minum jamu kembali menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia,” harap dia.

Untuk diketahui, Riyadi mulai merintis usaha pengolahan tanaman obat sejak 1997.

Dia mengaku, pada 1992 dia diberi pengarahan oleh mahasiswa IPB yang melakukan penelitian di TN Meru Betiri.

“Hasil penelitian tersebut ditemukan sebanyak 380 jenis tanaman obat di TN Meru Betiri. Kemudian pada 1997, saya dikirim ke Materia Medica Batu Malang untuk belajar tentang jamu selama 5 hari. Setelah itu, saya menggandeng masyarakat sekitar untuk mendirikan kelompok usaha pengolahan tanaman obat yang ada di TN Meru Betiri menjadi jamu herbal siap saji,” pungkas dia.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *