Penggunaan Dua Versi Ejaan Bahasa Madura di Kabupaten Sumenep Perlu Diseragamkan

oleh
Tim Perlindungan dan Pengembangan Bahasa madura Kab. Sumenep saat audensi diruang Komisi IV DPRD Kabupaten Sumenep, Jumat (10/1/2020).

SUMENEP, Jumat (10/1/2020) suaraindonesia-news.com – Sejumlah Tim Perlindungan dan Pengembangan Bahasa Madura Kabupaten Sumenep mendatangi Kantor DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk beraudensi mempertegas dan memperjelas penggunaan ejaan bahasa Madura untuk diseragamkan, Jumat (10/01).

Koordinator Tim Perlindungan dan Pengembangan Bahasa Madura, Syaf Anton WR mengatakan, Kabupaten Sumenep pada saat ini menggunakan dua versi ejaan bahasa sekaligus, yaitu ejaan Sarasehan tahun 1973 dan ejaan hasil Kongres tahun 2008.

“Kalau kondisi tetap seperti ini, bagaiamana generasi kita ke depan tentunya akan kebingungan,” kata Syaf Anton pada media ini.

Lanjut salah seorang Sastrawan Sumenep ini, tertera dalam Peraturan Gubernur (Pergup) Nomor 19 Tahun 2014 pasal 9 ayat (1) dan (2) tentang kebahasaan daerah, tentang Ejaan yang disempurnakan (EYD) 2008 dan digunakan saat ini.

“Untuk saat ini, penggunaan ejaan bahasa Madura yang disempurnakan hasil Kongres 2008 di daerah Madura yaitu: Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan, sedangkan Kabupaten Sumenep masih tetap bertahan dengan Ejaan 1973,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Carto mengatakan, pihak akan segera menindak lanjuti permasalahan tersebut, karena di Kabupaten Sumenep terdapat penggunaan dua versi Ejaan Bahasa Madura yang sangat sulit dipecahkan.

“Saya masih belum tahu sejarah pastinya ejaan yang disempurnakan itu seperti apa, cuma saat ini Disdik juga punya tim Nabara, yang ini kan dari tim Pangara. Oleh karena itu, dua tim ini harus ketemu dulu, untuk menyelaraskan,” jelasnya.

Selanjutnya Carto, disinggung masalah anggaran untuk pembuatan bahan ajar di sekolah, ia mengaku kepada awak media, sejauh ini tidak ada anggaran, perencanaan itu adalah inisiatif dari tim pengembangan bahasa Madura sendiri.

“Itu rencananya mungkin kerjasama dengan penerbit dalam penjualan ke sekolah, karena yang butuh banyak, kalau semisal nanti ada anggaran, pasti kita berikan gratis ke sekolah,” tandasnya.

Reporter : Dayat
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *