Kasus Bullying Sempat Viral di Medsos, Polresta Bogor Kota Kedepankan Diversi

oleh -165 views
Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro (tengah) saat konfrensi pers.

KOTA BOGOR, Rabu (29/06/2022) suararaindonesia-news.com – Polresta Bogor Kota bergerak cepat atas kasus Bullying yang sempat viral di medsos, lokasi kejadian di area Lapangan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah pada Minggu (26/06/2022).

Polresta Bogor Kota bergerak cepat, tak membutuhkan waktu lama untuk mengamankan 5 pelaku aksi bullying atau perundungan terhadap remaja berinisial FC (15) di Kota Bogor. Kelima pelaku adalah sesama wanita yang merupakan kelompok bermain korban.

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro dalam konfrensi Pers dihadapan puluhan awak media mengatakan kelima pelaku perundungan itu masing-masing berinisial SL (17), JR (12), DS (14), CC (14) dan PT (14). Para pelaku masih ada yang berstatus sekolah tetapi ada pula yang putus sekolah.

”Pelakunya ada 5 orang, tadi malam perekam atas nama MP kami amankan beserta telepon genggam dan akun miliknya. Memang dia tidak melakukan, hanya merekam dan upload ke media sosial,” kata Susatyo, Rabu (29/06/2022).

Susatyo menyebut, karena umur para pelaku yang masih belia, pihaknya akan berupaya mengedepankan diversi atau musyawarah dengan korban untuk menyelesaikan ini. Agar hak-hak sebagai anak bisa tetap dijalankan.

”Tentunya memang dalam UU Perlindungan Anak dan anak yang berhadapan dengan hukum, kami harus mengedepankan upaya diversi atau restorative justice dan dari pihak keluarga korban nanti sore akan kami pertemukan. Didampingi orangtua, nanti sore diputuskan,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Bogor, Bapas dan melaksanakan konseling kepada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bogor.

”Berharap ini menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa bagaimanapun pengawasan atau pendidikan oleh keluarga karena ini anak-anak masih di bawah 18 tahun dan keluarga sangat mempengaruhi termasuk grup dlam kelompok bermain mereka,” tandasnya.

Dalam waktu yang sama, Pendamping dari Bapas Kelas II Kota Bogor,Julijar Jusuf Hutahean turut mengatakan memang diwajibkan untuk mendampingi anak di setiap tahap baik itu mulai dari tahap pemeriksaan kepolisian sampai dengan peradilan.

“Untuk diversi ini wajib dilaksanakan bagi tindak pidana yang ancaman pidananya itu di bawah 7 tahun itu menurut Undang-Undang No 11 tahun 2012. Itu wajib dilaksanakan walaupun nanti mungkin pada pelaksanaannya tidak terjadi kesepakatan di tingkat pendidikan bisa dilanjutkan nanti di tahap 2 di tingkat kejaksaan dan dilanjutkan kembali apabila tidak berhasil sebelum sidang di pengadilan nanti,” terangnya.

Senada juga diungkapkan oleh Aldie Wijaya selaku Pendamping dari P2TP2A Kota Bogor, pihaknya hadir untuk membantu dalam hal konseling khususnya untuk korban yang trauma dan kalau untuk si pelaku mungkin bisa diberikan edukasi.

“Hal seperti itu mungkin bisa kita cek dulu dari psikologinya terlebih dahulu paling itu, nanti baru setelah kita mendapatkan hasil dan menentukan seperti apa tindakan selanjutnya. Kita lakukan nanti kedepannya, kalau kondisi anak masih belum ada penggalian lagi dan semoga akan ada hasil maksimal dan jauh lebih baik lagi,” tutup Aldie.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Redaksi
Publisher : Romla

Tinggalkan Balasan