BALIKPAPAN, Jum’at (24/4) suaraindonesia-news.com – Julukan “Kota Minyak” seolah menjadi pil pahit bagi para sopir truk di Balikpapan. Di tengah kepulan asap kilang raksasa, para pejuang ekonomi keluarga ini justru harus terjebak dalam antrean mengular hingga dua hari satu malam demi mendapatkan setetes solar bersubsidi.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas di SPBU KM 15 Karang Joang, Balikpapan Utara. Antrean truk bak naga raksasa yang mengular hingga 2 kilometer dari arah Samarinda dan 1 kilometer dari arah kota, menjadi pemandangan harian yang menyesakkan dada.
Ruspandi, anggota Komunitas Sopir Truk Balikpapan (KSTB), mengungkapkan bahwa kelangkaan ini bukan sekadar soal waktu, melainkan soal kelangsungan hidup. Ia mengaku pendapatan para sopir anjlok drastis lebih dari 50 persen.
“Dalam seminggu, kami sekarang hanya bisa kerja dua sampai tiga hari. Selebihnya habis hanya untuk mengantre solar. Tidur pun di pinggir jalan, jauh dari keluarga. Kami merasa seperti tinggal di daerah tertinggal, padahal ini kota pengolah minyak,” keluh Ruspandi saat disambangi media ini di lokasi antrean truk
Menurutnya, jatah 120 liter sekali isi hanya cukup untuk dua kali angkutan jarak jauh seperti halnya ke wilayah Samboja atau Loa Janan. Setelah itu, mereka harus kembali masuk ke “ritual” antrean yang melelahkan.
Lelah dengan ketidakpastian, para sopir mulai menerapkan aturan ketat secara mandiri. Siapa pun yang mencoba “curang” dengan mengisi lebih dari satu kali akan langsung diusir dari barisan. Namun, mereka sadar ini bukan solusi akar masalah.
KSTB mendesak Pemerintah Kota Balikpapan dan Pertamina untuk segera menambah fasilitas pengisian BBM, khususnya di wilayah pinggiran seperti Karang Joang dan Balikpapan Timur. Mereka menilai distribusi khusus BBM solar subsidi saat ini tidak adil dan terlalu menumpuk di titik tertentu.
Situasi ini terasa semakin janggal mengingat Balikpapan tengah menjadi pusat perhatian lewat proyek pengembangan kilang minyak (RDMP).
“Proyek besar jalan terus, tapi kami di lapangan harus menderita antre berhari-hari. Ini sangat tidak sejalan dengan kenyataan,” tegas Ruspandi.
Para sopir berharap pemerintah tidak hanya duduk manis di kantor, tetapi turun langsung ke lapangan untuk melihat penderitaan masyarakat kecil yang menjadi tulang punggung logistik daerah maupun bagi perekonomian mereka.
“Tolong berikan kebijakan yang adil. Kami juga ingin bekerja normal dan beristirahat di rumah bersama keluarga, bukan habis di jalanan demi solar,” pungkasnya.












