GeMPAR Aceh Nilai Tuntutan Jaksa Kasus Novel Baswedan Coreng Wibawa Pemerintahan Jokowi

oleh -238 views
Ketua Gerakan Masyarakat Partisipatif (GeMPAR) Aceh, Auzir Fahlevi, SH.

ACEH, Senin (15/06/2020) suaraindonesia-news.com – Tuntutan satu tahun penjara dari Jaksa Penuntut Umum kepada dua pelaku penyiraman air keras dalam kasus Novel Baswedan sangat kontra produktif dengan semangat penegakan supremasi hukum pasca reformasi dan mencederai azas keadilan yang merupakan fondasi dari penegakan hukum itu sendiri.

Hal itu disampaikan Ketua Gerakan Masyarakat Partisipatif (GeMPAR) Aceh Auzir Fahlevi, SH kepada media suaraindosia-news.com. Minggu (14/06) di Aceh Timur.

Dikatakan Auzir, tuntutan Jaksa tersebut, diakui atau tidak telah mencoreng dan merusak kewibawaan pemerintahan Jokowi dalam konteks penegakan hukum.

Ia juga mengatakan, kasus Novel Baswedan itu sudah menguras banyak energi dan waktu. Tim Pencari Fakta dalam mengungkap kronologi, fakta serta motif dibalik kasus Novel Baswedan, tiba-tiba saat kasusnya masuk ke pengadilan dan masuk tahapan tuntutan jaksa malah dituntut satu tahun penjara.

“Ini kesannya kasus Novel Baswedan kasus sederhana, padahal kasus ini level nasional bahkan juga menarik perhatian lembaga internasional,” cetus Auzir.

Menurutnya, Presiden Jokowi dalam hal ini perlu melakukan evaluasi terhadap Jaksa Agung karena Jaksa Agung dianggap tidak sejalan dengan komitmen Presiden Jokowi dalam menegakan hukum secara tepat dan adil pada posisi ini, kesalahan dan kekeliruan seperti ini selalu dialamatkan kepada Presiden Jokowi padahal ini arahnya tidak tepat.

“Makanya untuk mencegah distrust (ketidakpercayaan) publik, Presiden perlu mengambil langkah evaluasi terhadap Jaksa Agung dan jajarannya berkenaan dengan Kasus Novel Baswedan,” tegas Auzir.

“Analisa kami, tuntutan Jaksa itu kesannya tuntutan by order atau titipan, terkesan tuntutan tersebut hanya sebagai perwakilan perasaan dari ketidaksenangan terhadap Institusi KPK khususnya terhadap Novel Baswedan,” ujar Auzir yang juga berprofesi pengacara itu.

Padahal kata Auzir, Novel Baswedan nyata-nyata sebagai korban persoalan dia secara hubungan dengan institusi Polri kurang baik, itu harus dipisahkan karena Novel bukan lagi Anggota Polri, dia adalah penyidik KPK dan secara hukum wajar kasusnya mendapatkan penanganan yang profesional dan transparan baik dari Polri, Kejaksaan dan Pengadilan.

“Jadi, jangan ada nanti seolah-olah ada kepentingan politik yang dibenturkan antara Polri dengan kasus Novel Baswedan. Ini tidak fair dan keluar dari substansi kasus,” ujarnya.

“Substansi kasus Novel Baswedan adalah soal penganiayaan yang sudah direncanakan dan penggunaan pasal 353 ayat 1 dan 2 KUHP kurang objektif dan relevan serta ancaman pidana maksimal 4 dan 7 tahun penjara padahal dapat digunakan pasal 355 Ayat 1 KUHP dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara,” sebut Auzir.

“Karena itu kami elemen sipil di Aceh meminta kepada Presiden untuk mengevaluasi kinerja Jaksa Agung dan meminta Komisi Kejaksaan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Jaksa Penuntut Umum yang menuntut terdakwa penyiram air keras terhadap Novel Baswedan satu tahun penjara,” tambahnya.

Menurut keterangan Jaksa Penuntut Umum Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, sebagaimana dikutip dari VIVA.co.id edisi 12/06 mengatakan Jaksa menuntut dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, dengan pidana satu tahun penjara.

Jaksa menilai, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, bersama-sama melakukan penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, sehingga menyebabkan Novel mengalami luka berat. Perbuatan itu dilakukan karena terdakwa menganggap Novel telah mengkhianati institusi Polri.

Sedangkan hal-hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya, terdakwa mengakui perbuatannya di persidangan, terdakwa kooperatif dalam persidangan, terdakwa telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

Jaksa juga beralasan jika tuntutan yang diberikan pada kedua terdakwa itu sesuai dengan pasal yang diterapkan sebab menurut jaksa kedua terdakwa tidak berniat untuk melukai bagian wajah Novel melainkan tubuhnya.

Repoter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan