Efek Bali Jiggy-jig, Camat Jenggawah Ajukan Sertifikat Bebas HIV/AIDS Sebelum Menikah

oleh -582 Dilihat
Anggota Komisi IX DPR-RI, Ayub Khan saat menghadiri sosialisasi KIE Kreatif BkkbN di Desa Kemuningsari Kidul, Kec. Jenggawah. (Foto: Gun/SI)

JEMBER, Minggu (19 November 2017) suaraindonesia-news.com – Pergaulan generasi muda semakin mengkhawatirkan, prinsip supaya dikatakan “anak gaul” terkadang menjerumuskan generasi muda ke dalam lingkaran pergaulan yang membahayakan, bahkan bisa mematikan masa depan mereka. Mulai dari mengkonsumsi narkoba hingga melakukan seks bebas seakan menjadi momok menakutkan dari generasi muda masa kini.

Camat Jenggawah, Kab. Jember, Rahman Hidayat menyoroti kondisi sosial dimana anak muda dalam hal ini kaum pria dengan status pengangguran, sedangkan pola hidup mereka hedonis serta bebas diajak oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk merantau ke Pulau Dewata, Bali menjadi penjajah cinta bagi para wisatawan mancanegara (wisman) wanita yang sedang memburu surga dunia.

Kondisi sosial ini mengingatkan pada sebuah film dokumenter yang menggemparkan dunia, muncul pada 2009 yang tersebar di Korea dan Singapura.

Cowboys In Paradise, sebuah film dokumenter yang menceritakan kehidupan para beach boy di pulau dewata.

Keberadaan mereka (beach boy, red) cukup fenomenal berkembang di mata wisman, dan menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi wisman, terutama wanita asal Jepang.

Dikutip dari tribunnews.com, Yukio Murakami , seorang penulis lepas asal Jepang, ia pernah menulis di sebuah majalah mingguan, Nikkan Gendai adalah nama majalahnya, tepatnya pada edisi 11 mei 2010, halaman 5, bahwa sebagian besar wanita Jepang yang berkunjung ke Bali memiliki tujuan mencari beach boy yang merangkap sebagai gigolo, sebuah fenomena yang berawal sekitar tahun 1990-an ketika Bali menjadi sangat populer, banyak wanita Jepang pergi berlibur ke Bali untuk dipijat.

Pengamatannya berlanjut pada tahun 2005, ternyata banyak wanita pekerja toko di Jepang yang stress dalam kehidupannya dan jarang melakukan hubungan seks sehingga mereka melepaskan stressnya dengan datang ke Bali untuk mencari lelaki. Awalnya untuk sekedar dipijat, mengajarkan surfing ataupun sekedar menemani ngobrol, tetapi akhirnya sampai pada tujuan yang diinginkan yaitu pijatan seksual. Tidak sedikit dari wanita Jepang yang akhirnya memilih menikah dengan beach boy di Bali ataupun sekedar kawin kontrak selama berada di Bali.

Jiggy-jig adalah bahasa gaul dari Australia yang sering digunakan oleh bule aussie yang ingin melakukan seks. Sehingga para beach boy dalam mendekati mangsanya kerap kali mengucapkan “do you like jiggy-jig ?” bahkan sempat tersebar sebuah lagu dengan lirik :

-Jiggy-jig massage, jiggy-jig massage, Bali holiday
-Jiggy-jig massage, jiggy-jig massage, Bali holiday.

Sedangkan untuk menyasar wanita Jepang, bahasa yang sering digunakan beach boy ialah :

Moshi-moshi, anata wa daisuki icha-icha, desuka ? (Halo, apa anda mau bercinta dengan saya?)

Tarif para beach boy ini pun bervariasi, sekali kencan bisa 5000 yen, bahkan ada yang lebih murah yaitu 2000 yen dan apabila melayani seharian penuh maka tarifnya 1000 yen. (Yukio Murakami: 2010)

Sehingga tak heran, Camat Jenggawah mengatakan ketika para pemuda yang bekerja sebagai beach boy ini pulang kampung membawa uang yang sangat banyak.

Mereka pun (beach boy, red) mempunyai daya tarik yang tinggi bagi para orang tua untuk menikahkan anak perempuannya dengan mereka.

“Padahal mereka (para orang tua, red) tidak tahu pekerjaan sebenarnya di Bali, dimana dengan berganti-ganti pasangan dalam hubungan intim berakibat pada HIV/AIDS,” terang Rahman.

Dengan keresahannya itu, Rahman mengajukan dikeluarkannya sebuah regulasi tentang sertifikat bebas HIV/AIDS bagi para pasangan yang akan menikah di KUA, kepada Anggota Komisi IX DPR-RI, Drs. Ayub Khan, M.Si saat melakukan sosialisasi Program Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Kreatif kepada masyarakat Desa Kemuningsari Kidul, Kec. Jenggawah, Sabtu (18/11) sore.

“Latar belakang saya mengajukan regulasi tersebut, untuk menyelamatkan anak kandung mereka, menghindari anak lahir sudah dalam terkena HIV,” jelasnya.

Sementara itu, Ayub Khan menyambut baik usulan tersebut dan akan membawanya ke rapat kerja.

“Kami selaku legislator, apapun yang disampaikan oleh konstituen itu nantinya akan kita sampaikan ke dinas yang bersangkutan, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, Apa memang bisa diterapkan atau pun tidak, termasuk kepada Kementerian Agama,” terang Ayub kepada media ini.

Dia menambahkan regulasi ini, tentunya akan melalui berbagai kajian terlebih dahulu. (Gun/Jie)

Tinggalkan Balasan