Departemen ESL dan Desa Pasarean Tanda Tangani Nota Kesepahaman dan Kerjasama Pemberdayaan Perempuan

oleh -54 views
Kades Pasarean Dedi Furqon (Kiri) Kadep ESL Dr. Ahyar Ismail (Kanan).

BOGOR, Jumat (16/04/2021) suaraindonesia-news.com – Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) IPB University kembali menandatangani perjanjian kerjasama dan nota kesepahaman dengan Desa Pasarean dalam Pemberdayaan Perempuan. Kamis (15/04).

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Ketua Departemen ESL, Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr dan Kepala Desa Pasarean Dedi Furqon . Pada kegiatan penandatanganan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Desa Pasarean yaitu Sekretaris Desa M. Farid, Sekretaris Departemen ESL Dr. Meti Ekayani, KTU dan juga Dosen ESL.

Desa Pasarean telah lama menjadi Desa Mitra Departemen ESL, yaitu mulai tahun 2016 hingga sekarang. Kerjasama yang telah terjalin selama beberapa tahun ini membawa banyak perubahan masyarakat desa, terutama untuk pengelolaan sampah dan juga pemberdayaan perempuan. Di Desa Pasarean telah terbentuk bank sampah Skrikandi Berdikari yang pembetukannya digagas oleh Departemen ESL, demikian disampaikan Ketua Departemen ESL, Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr.

Menurutnya, pada tahun 2020, bersama PT. SMI Departemen ESL telah melaksanakan beberapa pelatihan dan juga memberikan bantuan berupa sarana infrastruktur yaitu pojok kreasi beserta isinya serta kendaraan roda 3 untuk mendukung keberlanjutan Bank sampah tersebut.

Kepala Desa yang baru terpilih kembali pada periode saat ini Dedi Furqon akan mendukung secara penuh kegiatan pemberdayaan perempuan yang telah digagas bersama antara Departemen ESL dan Desa Pasarean.

Selain itu, ke depannya Desa melalui dana SDGs akan memberdayakan ibu-ibu PKK untuk membuat produk ramah lingkungan seperti bantal yang berisi potongan sampah plastik. Selain pemberdayaan perempuan, juga akan dilaksanakan pelatihan dan pendampingan petani untuk kegiatan penanaman padi organik. Ke depannya, ESL akan memberikan pelatihan bersama NOSC hingga proses pengawalan para petani mendapatkan sertifikat organik, karena tanpa sertifikat, maka padi, sayuran yang organic tersebut tidak akan dianggap sebagai produk organic.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *