Demi Lingkungan Sehat, Kemenkes Keluarkan Kepmenkes

LUMAJANG, Jumat (12/4/2019) suaraindonesia-news.com – Dalam rangka menciptakan lingkungan sehat, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengeluarkan Kepmenkes no: 852/Menkes/SK/IX/2008, tanggal 9 September 2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Strategi ini, menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang, dr Bayu Wibowo, merupakan upaya bangsa Indonesia melalui pembangunan bidang kesehatan.

“Ini untuk mewujudkan dan memperkuat upaya pemberdayaan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat,” kata dr Bayu dalam sambutannya di penutupan acara Workshop STBM, yang dilaksanakan sejak Rabu-Jumat (10-12/4) diruang pertemuan kantor Dinkes Lumajang.

Selain itu, kata dr Bayu, juga untuk mengimplementasikan komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang berkesinambungan dalam mencapai Universal Acces 2019 yaitu 100 – 0 – 100.

“Maksud dari 100-0-100 itu adalah, 100 persen masyarakat terakses air minum yang memenuhi syarat, 0 persen kawasan kumuh dan 100 persen masyarakat mengakses sarana sanitasi jamban yang memenuhi syarat,” ujarnya lagi.

Strategi Nasional STBM, dikatakan pula oleh dr Bayu, merupakan acuan dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi yang terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.

“Sanitasi total dimaksud adalah kondisi suatu komunitas benar-benar menerapkan pilar-pilar STBM yang meliputi 5 pilar yaitu 1) Stop Buang Air Besar (BAB) Sembarangan, 2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), 3) Mengelola Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT) dan makanan yang aman, 4) Pengelolaan Sampah dengan benar, 5) Mengelola Limbah Cair Rumah Tangga dengan aman,” bebernya.

Secara umum, kegiatan ini, kata dr Bayu bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang STBM melalui pendekatan CLTS untuk menuju buang air besar yang benar dan sehat secara total dan keseluruhan dalam Desa/Dusun.

“Secara khusus, ini juga akan memberikan pemahaman tentang prinsip dan ciri penting CLTS/STBM, dapat memberikan wawasan dan pemahaman tentang bagaimana melakukan teknik pemicuan yang efektif ke masyarakat, juga akan memperoleh masukan tentang proses pemicuan yang dilaksanakan oleh fasilitator yang sudah melaksanakan pemicuan di wilayah target program yang akan dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Lumajang,” paparnya lagi.

Selain itu, peserta yang hadir pada acara workshop tersebut, menurut dr Bayu juga akan memperoleh data terkait dengan problem pelaksanaan program CLTS di wilayah target, memperoleh dukungan dari pihak terkait di wilayah target program dalam pelaksanaan kegiatan ini dan juga akan ada sinergi program yang akan dilaksanakan di wilayah target progaram.

“Output dari kegiatan ini nantinya akan ada persamaan persepsi tentang teknik pemicuan yang efektif yang akan dilaksanakan di wilayah target program, ada fasilitator dari tingkat Kecamatan dan Kabupaten yang terlatih dalam melakukan pemicuan stop BABS, ada rencana tindak lanjut kegiatan mitra/pihak terkait tentang kegiatan CLTS yang akan dilaksanakan di wilayah target program, ada data awal tentang wilayah dan persoalan-persoalan yang terkait dengan program STBM di wilayah target, dan akan ada dukungan dari Dinkes dan lintas sektor terkait dalam program STBM,” urai dr Bayu.

Dan outcome yang diharapkan oleh pihak Dinkes Kabupaten Lumajang adalah memiliki fasilitator terlatih yang mampu melakukan pemicuan STBM diwilayah kerjanya masing-masing.

Sasaran kegiatannya adalah Puskesmas dengan sanitarian/petugas kesling sebanyak 25 orang dan ditambah dengan beberapa unsur dari lintas sektoral masing-masing OPD.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publiser : Dewi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here