JAKARTA, Rabu (14/10) suaraindonesia-news.com – Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia mencatatkan kinerja gemilang dengan melampaui target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2026 jauh sebelum tahun anggaran berakhir. Hingga Senin, 12 Oktober 2026, realisasi PNBP telah mencapai Rp8,68 triliun.
Angka tersebut setara dengan 101,88 persen dari target yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2026. Sektor visa dan izin keimigrasian tercatat sebagai kontribusi terbesar.
Pendapatan dari sektor visa saja menyumbang Rp4,7 triliun atau 55 persen dari total penerimaan. Angka ini disusul oleh layanan paspor sebesar Rp2,1 triliun, izin keimigrasian dan re-entry permit sebesar Rp1,52 triliun, serta berbagai layanan lainnya yang menyumbang Rp270 miliar.
Secara tahunan (year-on-year), perolehan ini mencatatkan surplus yang signifikan sebesar Rp510 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian ini.
Menurutnya, torehan positif tersebut berhasil diraih di tengah dinamika kondisi geopolitik global, sejalan dengan pengakuan dunia di mana Indonesia masuk dalam tiga besar destinasi wisata wajib dikunjungi sekali seumur hidup versi majalah CEOWORLD.
“Kami mensyukuri bahwa kebijakan keimigrasian berhasil mendorong hadirnya wisatawan berkualitas yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian negara. Kontribusi yang tinggi terhadap penerimaan negara ini menjadi salah satu indikator kualitas layanan yang diselenggarakan pemerintah,” ujar Hendarsam dalam siaran pers, Rabu, (14/10).
Lebih lanjut, Hendarsam menegaskan bahwa pencapaian target tersebut tetap diiringi dengan pengawasan keimigrasian yang semakin digencarkan sepanjang tahun 2026.
“Sepanjang tahun 2026 ini, pengawasan keimigrasian terus kami gencarkan. Sekitar 5.310 WNA telah dideportasi dan 3.950 di antaranya dimasukkan ke dalam daftar cekal. Kita tentunya menginginkan hanya WNA berkualitas yang masuk dan berkegiatan di Indonesia. Terbukti, tingginya angka penindakan terhadap pelanggar hukum tidak menyurutkan animo pelancong internasional untuk tetap datang ke Indonesia,” jelasnya.
Seiring dengan optimalisasi penerimaan PNBP, Imigrasi Indonesia terus meningkatkan mutu layanan untuk menjaring pelintas berkualitas. Salah satunya diwujudkan melalui peluncuran platform digital evisa.imigrasi.go.id, yang memungkinkan fasilitas pembayaran kartu kredit secara langsung tanpa perantara agen atau penjamin.
Kemudahan tersebut juga didukung oleh penambahan fasilitas auto-gate di berbagai tempat pemeriksaan imigrasi utama. Saat ini, sebanyak 298 unit auto-gate telah beroperasi untuk mendukung pembentukan ekosistem nirhambat (seamless ecosystem) di pintu masuk negara.
“Kami mendapati bahwa orang asing tidak melulu mencari yang gratisan. Pelintas berkualitas yang datang ke Indonesia justru mengharapkan kemudahan di sisi pelayanan imigrasi. Kami menghadirkan kemudahan tersebut melalui ekosistem yang seamless, mulai dari penerbitan visa atau izin tinggal hingga sistem perlintasan yang terintegrasi,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam aspek pelayanan paspor, pendekatan kepada masyarakat dilakukan melalui program jemput bola bertajuk Pasporia (Paspor Ceria) yang diselenggarakan di ruang-ruang publik, seperti saat Car Free Day (CFD) di akhir pekan. Imigrasi juga memperluas jangkauan layanan dengan menambah kantor imigrasi baru di berbagai daerah serta mengoperasikan unit pelayanan baru yang siap melayani masyarakat di luar hari dan jam kerja reguler.
“Kami berkomitmen menghadirkan layanan imigrasi yang seamless namun tetap kokoh sebagai penjaga kedaulatan pintu gerbang negara. Capaian realisasi PNBP ini akan terus kami tingkatkan. Kami memperkirakan pada akhir 2026 nanti total perolehan dapat mencapai Rp10,9 triliun hingga Rp11 triliun,” pungkas Hendarsam.












