SUMENEP, Kamis (10/09) suaraindonesia-news.com – PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda) mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan, khususnya dalam menggunakan fasilitas pembiayaan atau utang.
Edukasi tersebut disampaikan BPRS Bhakti Sumekar melalui kampanye literasi keuangan bertajuk “Utangmu untuk Kebutuhan atau Gengsi?” yang dipublikasikan melalui akun Instagram resmi perusahaan.
Melalui kampanye itu, masyarakat diingatkan agar tidak menjadikan utang sebagai sarana untuk mengikuti tren maupun memenuhi gaya hidup yang bersifat konsumtif.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengatakan keputusan untuk mengambil pembiayaan perlu dilakukan secara matang dengan mempertimbangkan tujuan penggunaan dana serta kemampuan dalam memenuhi kewajiban pembayaran.
“Berutang bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan. Pembiayaan akan memberikan manfaat apabila digunakan untuk hal-hal yang produktif maupun kebutuhan yang benar-benar penting,” ujar Hairil Fajar, Kamis (10/09/2026).
Menurut Hairil, pembiayaan dapat menjadi salah satu solusi keuangan apabila digunakan untuk kebutuhan yang memiliki nilai manfaat, seperti pendidikan, kesehatan, modal usaha, maupun kebutuhan mendesak yang telah direncanakan.
Sebaliknya, masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan konsumtif yang sebenarnya belum diperlukan. Kebiasaan mengganti telepon genggam karena mengikuti tren, berbelanja secara berlebihan, membeli barang demi mengikuti gaya hidup, hingga membiayai aktivitas hanya untuk menjaga gengsi dinilai perlu dihindari.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari kebiasaan berutang hanya demi mengikuti tren, membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan, berbelanja secara berlebihan, ataupun untuk kebutuhan yang hanya bertujuan menjaga gengsi,” katanya.
Hairil menegaskan, sebelum mengajukan pembiayaan, masyarakat perlu mengevaluasi kembali tujuan penggunaan dana sekaligus menghitung kemampuan membayar angsuran.
“Sebelum memutuskan berutang, tanyakan pada diri sendiri apakah pembiayaan tersebut benar-benar untuk kebutuhan atau hanya sekadar ingin terlihat memiliki. Keputusan yang tepat akan menciptakan ketenangan finansial di masa depan,” jelasnya.
Melalui kampanye tersebut, BPRS Bhakti Sumekar berupaya mendorong masyarakat membangun pola pengelolaan keuangan yang sehat. Penggunaan utang, menurut Hairil, bukan persoalan yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi perlu ditempatkan secara tepat agar memberikan manfaat dan tidak berubah menjadi beban keuangan.
Edukasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan BPRS Bhakti Sumekar terhadap Bulan Literasi Keuangan 2026 dan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026, yang mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan secara bijak, sehat, dan berkelanjutan.












