Kasus Dugaan Pembunuhan, Keluarga Korban Tuding Penyidik Polres Sumenep Lalai

Syafrawi kuasa hukum didampingi saudara korban Moh Hasan sewaktu menunjukkan beberapa temuan kejanggalan dalam meninggalnya korban

SUMENEP, Kamis (12/07/2018) suaraindonesia-news.com – Dugaan kasus pembunuhan Moh Hasan, warga Desa Lebeng Timur, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur hingga saat ini dipertanyakan keluarga korban. Pasalnya, banyak bukti petunjuk yang diabaikan oleh penyidik Polres setempat.

Syafrawi kuasa hukum korban mengatakan, sesuai hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian, Moh Hasan meninggal dunia karena terkena tegangan arus listrik jebakan kera/monyet. Namun, berdasarkan hasil analisa dan investigasi yang dilakukan, Moh Hasan meninggal dunia bukan semata karena tersengat listrik, melainkan lebih dekat pada pembunuhan.

Dugaan tersebut terungkap, kata Syafrawi karena pada tubuh korban terdapat bekas penganiayaan. Misalnya leher korban patah yang diduga terkena benda tumpul. Selain itu, muka lebam dan telinga korban saat dimandikan keluar darah yang terus mengalir.

“Seandainya terkena setrum, darah korban pasti membeku. Ini tidak, malah keluar darah segar dari telinganya. Selain itu, Wajah dan hidung korban memar, mulut korban bengkok, di kepalanya tedapat luka, di badan korban juga ada luka hingga kemaluannya dipenuhi pasir. Padahal, di kokasi ditemukannya Hasan tanahnya tidak ada pasir dan dalam keadaan tengkurap diatas rumput,” katanya.

Fakta lain lanjut Syafrawi, ditemukannya percikan darah di lantai bekas gedung sekolah. Darah tersebut diduga kuat adalah bekas darah korban.

Baca Juga: Kawanan Pembuat Teror, Diringkus Tim Anti Teror Polres Lumajang 

“Anehnya lagi, diperut dan paha korban terdapat luka bakar. Tapi baju dan kaos dalam yang dipakai tetap rapi. Sehingga luka itu tidak mungkin karena kesetrum,” ungkapnya.

Bahkan lanjut Syafrawi, kabel yang dialiri setrum saat kejadian dalam kondisi mati. Karena sebelum peristiwa itu terjadi, kabel yang menyambungkan ke persawahan dari rumah H Rofiki alias Mat Kacong terputus akibat terkena alat bajak sawah.

“Juga tegangan listrik itu hanya untuk menangkap kera, karena kera datang siang hari maka hanya dihidupkan pada siang hari. Sementara peristiwa meninggalnya Hasan diduga kuat terjadi di pagi hari, ini kan aneh,” ucapnya lagi.

Bukti-bukti tersebut kata Syafrawi diabaikan oleh penyidik. Terbukti, dalam BAP dua orang yang telah ditetapkan tersangka, yakni Ahmad Kacong alias H Rofiki dan Misnal tidak ada. Sehingga keluarga korban meminta untuk dilakukan autopsi ulang.

Hanya saja hasil autopsi yang dilakukan oleh Polda Jatim beberapa waktu, keluarga korban tidak diberi tahu. Sehingga, Syafrawi berkisimpulan penyidik tergesa-gesa menetapkan tersangka.

“Kami yakin dua tersangka itu jadi korban pelaku yang sebenarnya. Karena ada mata rantai yang terputus. Makanya bukti-bukti itu akan kami ungkap semua nanti,” tegasnya.

Sementara, Kasubbag Humas Polres Sumenep Iptu Joni Wahyudi mengatatakan, perkara tersebut sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sumenep. Karena berkas perkaranya sudah lengkap (P21).

“Kalau berkas perkaranya sudah dilimpahkan berarti sudah lengkap. Berarti proses penyidikan selesai. Kalau ada bukti baru atau novum baru, silakan ajukan dalam persidangan,” terangnya saat dihubungi melalui sambungan teleponnya.

Hanya saja Joni menepis jika penyidik dianggap kurang profesional dalam proses pekara itu.

Sebelumnya, Moh Hasan (35) ditemukan meninggal dunua di sebuah lahan kosong (tegal) dengan kondisi tubuh luka bakar. Diduga kuat tersengat listrik dari perangkap kera/monyet, pada Kamis (01/03/2018) sore. Dari hasil penyelidikan, penyidik menetapkan dua tersangka, yakni Ahmad Kacong alias H Rofiki dan Misnal. Ahmad Kacong merupakan pemilik sawah.

Reporter : Syaiful
Editor : Agira
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here