Yahya Boh Kaye : Selain Medco, DLH dan BPMA Harus Tanggung Jawab Atas Insiden Keracunan Warga

oleh -322 views
Foto : M.Yahya Ys, Anggota DPRK Aceh Timur saat berada di Puskesmas Banda Alam untuk melihat korban keracunan.

ACEH TIMUR, Sabtu (10/04/2021) suaraindonesia-news.com – Dampak lingkungan yang ditimbulkan dari kegiatan flaring yang dilakukan PT. Medco E&P Malaka di lokasi AS-11 telah menyebabkan puluhan warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam Kabupaten Aceh Timur tumbang karena terhirup gas beracun. Peristiwa yang terjadi pada hari Jumat (08/04) dikarenakan kelalaian dan human error yang dilakukan oleh karyawan perusahaan.

Menyikapi peristiwa tersebut Anggota DPRK Aceh Timur M. Yahya Ys minta PT. Medco bertanggung jawab atas kecorobohan dan kelalaian yang dilakukan tanpa pihak mereka. Sehingga terancam jiwa manusia dan lingkungan hidup lain nya, selain Medco, BPMA, DLH Provinsi dan Kabupaten juga harus bertangungjawab terhadap terjadinya keracunan warga akibat dugaan gas beracun yang ditimbulkan darikegiatan flaring sumur gas AS- 11.

“Seharusnya, pihak DLH sebelum kegiatan flaring sumur AS-11 dilakukan harus melakukan analisis dampak lingkungan dan keselamatan warga sekitar yang mungkin di timbulkan dari kegiatan tersebut,” kata Yahya Boh Kaye saapan akrab M. Yahya.

Menurut politisi Partai Aceh tersebut, semua kegiatan perusahaan pengelola Blok A Migas, tentunya tidak terlepas dari pengawasan DLH dan BPMA.

“Untuk itu, kami DPRK Aceh Timur, menilai kegiatan ini yang menyebabkan keracunan warga ada kelalaian, dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperketat pengawasan terhadap kegiatan yang menimbulkan dampak lingkungan,” terangnya.

Dampak lingkungan yang terjadi akibat flaring ini bukan saja terjadi terhadap manusia, akan tetapi kita khawatirkan juga berdampak terhadap habitat flora dan fauna. Apalagi daerah pedalaman kita ini ada yang termasuk kawasan ekosistem lauser.

“Kita khawatirkan ada satwa yang dilindungi ikut keracunan dari akibat yang ditimbulkan dari peristiwa ini,” ujarnya.

“Harapan kita, semua pihak harus berhati- hati, ini merupakan kegiatan yang mempunyai resiko besar, penegak hukum harus bertindak tegas atas kelalaian ini,” tegas Yahya Boh Kaye.

Sementara tim Medikal Medco E&P Malaka terus mendampingi warga saat pengobatan di Puskesmas dan rumah sakit. Perusahaan akan terus memonitor kesehatan dan menyalurkan kebutuhan warga terdampak serta terus berkoordinasi dengan Pihak Puskesmas dan instansi terkait lainnya.

“Perusahaan akan terus fokus menangani warga yang terdampak kejadian ini, baik terkait kesehatan maupun kebutuhan logistik warga tersebut,” ujar VP Relations & Security Medco E&P Indonesia Arif Rinaldi.

57 warga Desa Panton Rayeuk T, Aceh Timur, yang terdampak asap dari kegiatan flaring gas sumur AS-11 telah mendapatkan pengobatan dari Puskesmas dan diperbolehkan pulang. Sementara, 11 warga lainnya saat ini tengah dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

Sumur AS 11 saat ini sedang dalam proses perawatan rutin. Perusahaan telah menghentikan aliran sumur, segera setelah mendapatkan informasi, kata Arif Rinaldi dalam siaran pers yang dikeluarkan Jumat (09/04).

Reporter : Masri
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *