The 15th ESL Green Talk Perkenalkan Mahasiswa dengan Indonesia’s FoLU Net Sink 2030

oleh -172 Dilihat
Saat pelaksanaan The 15th ESL Green Talk secara daring

BOGOR, Kamis (26/05/2022) suaraindonesia-news.com – Bumi kita sudah berusia 4.5 milyar tahun dan telah memiliki banyak perubahan iklim. Dari berbagai literatur diperkirakan makhluk hidup yang ada di bumi ini sudah mengalami lima kali periode kepunahan yang disebabkan dari berbagai hal yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan, pertama karena pendinginan dan pemanasan, kedua hujan meteor, ketiga sampai dengan kelima disebabkan karena letusan gunung merapi terus menerus.

Memasuki kepunahan yang keenam adalah antropogenik yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor manusia yaitu adanya revolusi industry dan bom nuklir pada abad 18 yang menyebabkan tingginya karbondioksida di atmosfer.

“Dikhawatirkan pemicu percepatan kepunahan keenam itu adalah antropogenik walaupun masih dipengaruhi juga oleh factor alam” ungkap Prof. Dodik Ridho Nurrochmat, Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB sekaligus sebagai moderator, Kamis (26/05/2022).

The 15th ESL Green Talk yang dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2022 secara daring kali ini mengangkat topik AFoLU dan Pembangunan Rendah Karbon. Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Ristianto Pribadi, atau yang akrab disapa Dr. Tito, Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, KLHK.

Agriculture Forestry and other Land Use (AFoLU) dari NDC (Nationally Determined Contribution) mencakup sektor energi, limbah, industri, pertanian dan kehutanan. Dari kelima sektor ini diharapkan yang terbesar berkontribusi hampir 60% terhadap penurunan emisi gas rumah kaca adalah sektor FoLU, sehingga kami akan lebih banyak membahas informasi mengenai Indonesia’s FoLU Net Sink 2030, yang juga tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ungkap Dr. Tito.

FoLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui penurunan emisi GRK dari sector kehutanan dan penggunaan lahan dengan kondisi dimana tingkat serapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi. Upaya Indonesia untuk mencapai Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 perlu diikuti dengan alokasi lahan yang selektif dan terkontrol untuk pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang adil dan merata bagi masyarakat Indonesia.

Diantara yang termasuk ruang lingkup Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 adalah Rehabilitasi dengan Rotasi dan Rehabilitasi Non Rotasi. Rehabilitasi dengan Rotasi yaitu kita ekstraksi kayu yang ditebang dan memanfaatkan kayunya, sedangkan Rehabilitasi Non Rotasi yaitu kita melakukan penanaman tetapi tidak melakukan penebangan untuk tidak kita manfaatkan kayunya.

“Rehabilitasi Non Rotasi diperuntukan meningkatkan daya dukung, daya tampung lingkungan dan fungsi hutan sebagai tata air,” tambah Dr. Tito.

Sementara Dr. Ahyar Ismail, Ketua Departemen ESL mengatakan, melalui acara The 15th ESL Green Talk dari mata kuliah Ekonomi Kehutanan yang diampu oleh dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) yaitu Dr. Meti Ekayani, Asti Istqomah M.Si dan Danang Pramudita M.Si ini diharapkan dapat memberikan inside sesuai dengan tema yaitu AFoLU dan Pembangunan Rendah Karbon dari berbagai kegiatan atau aktifitas manusia antropogenik maupun secara alami.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Redaksi
Publisher : Ipul

Tinggalkan Balasan