Selama Delapan Bulan 55 Nyawa Melayang Dijalan Karena Laka Lantas

Foto : Laka Lantas di jalan raya Tongas Probolinggo.

PROBOLINGGO, Kamis (14 September 2017) suaraindonesia-news.com -Jumlah angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di wilayah hukum Polresta Probolinggo selama delapan bulan terakhir ini tercatat cukup tinggi bahkan belum menunjukkan tren penurunan, namun malah cenderung bertambah.

Terhitung mulai Januari hingga Agustus 2017 lalu, tercatat sudah terjadi 255 kasus laka lantas. Dari 255 kasus tersebut mengakibatkan 55 nyawa orang melayang sia-sia di jalan, 2 orang luka berat dan 370 orang luka ringan dan kerugian materil mencapai Rp.109.750.000.

Data yang dihimpun suaraindonesia.news.com, jumlah kasus kecelakaan lalu lintas yang ditangani Unit Laka Lantas Satlantas Polresta Probolinggo, jika dibanding tahun 2016, terjadi 300 kasus laka lantas. Dari 300 kasus itu, 97 nyawa orang melayang sia-sia di jalan, 1 orang luka berat dan 410 orang luka ringan. Sedang kerugian material mencapai Rp.100 juta.

Terkait dengan hal tersebut, Kanit Laka Lantas Polresta Probolinggo, IPTU Gandhi, menjelaskan, dari data kecelakaan yang terjadi, didominasi faktor humaneror manusia. Kasus kecelakaan akibat pengemudi tidak tertib aturan berlalu lintas atau karena pengemudi lengah.

“Ketidak tertiban seseorang terhadap aturan berlalu lintas adalah penyebab terbesar kasus kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun,” ujarnya, Kamis (14/9).

Dijelaskan, angka kecelakaan lalu lintas bisa ditekan apabila para pengendara taat mengikuti aturan berlalu lintas. Dia mencontohkan mengenai batas kecepatan yang sudah ditentukan jika berkendara di dalam jalur wilayah kota.

Untuk meminimalkan kecelakaan lalu lintas Gandhi mengatakan dengan melakukan kegiatan pendidikan kepada masyarakat terkait kesadaran berlalu lintas. Sebab, kesadaran pengguna jalan saat berkendara masih minim. Selain itu dengan melakukan pemetaan daerah rawan laka (block spot area).

Menurut Gandhi, “Kesadaran tertib berlalulintas sebagai kebutuhan keselamatan benar-benar harus diperhatikan di kalangan masyarakat kususnya di kalangan pelajar untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas”, ucapnya.

Namun hal tersebut masih sulit, karena keselamatan sebagai kebutuhan belum menjadi budaya masyarakat, sehingga dibutuhkan kesadaran dari individu masing masing, serta saling mengingatkan bila ada orang yang melakukan pelanggaran dalam berlalulintas, katanya.

Yang lebih penting lagi kata Gandhi adalah kesadaran berlalu lintas khususnya di kalangan pelajar. Begitu juga peran orangtua dan guru untuk melakukan pengawasan kepada pelajar yang berkendaraan saat pergi ke sekolah.

“Untuk melakukan pengawasan ini, orangtua sangat menentukan karena merupakan kunci utama untuk melakukan pengawasan kepada anak-anaknya di dalam mengendara”. Karena sesuai undang undang, usia anak sekolah belum boleh mengendarai sepeda motor atau mobil, kalau berangkat ke sekolah,” harapnya. (singgih).


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here