Sektor Perdagangan Terdampak Pandemi, Pengaruhi Penerimaan Retribusi Disdagperin Kabupaten Pati

oleh -114 views
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati, Hadi Santosa, AP; MM

PATI, Kamis (02/09/2021) suaraindonesia-news.com – Pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga kini, berdampak pada seluruh kegiatan perekonomian.

Sektor perdagangan, terutama di pasar tradisional, menjadi salah satu yang terdampak, memaksa daya jual di tingkat pedagang dan daya beli masyarakat, menurun.

Di sisi lain, hal itu sangat mempengaruhi penerimaan retribusi sehingga mengganggu PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang ditargetkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati, selaku pengelola pasar.

“Dampak pandemi, banyak pedagang pasar yang tidak beroperasi sehingga berpengaruh pada penerimaan retribusi,” kata Kepala Disdagperin Kabupaten Pati, Hadi Santosa, di kantornya, Kamis (02/09).

Retribusi yang dipungut dari pedagang di 20 pasar yang ada, lanjutnya, baru tercapai 55 persen dari 7.5 milyar yang ditargetkan pada 2021 ini.

“Akhir Agustus kemaren baru tercapai 55 persen, harusnya di triwulan ke-3 ini sudah mencapai 70 persen. Tetapi memang biasanya menjelang akhir tahun, pedagang banyak yang menyetor langsung ke bank,” lanjutnya.

Menurut Hadi, pedagang diberi kemudahan pembayaran retribusi, yaitu secara bulanan, setengah tahunan dan pertahun. Besarnya tergantung pada luasan kios, los atau pelataran yang dipakai dengan tarip per meter persegi.

Dia juga menilai, kepatuhan pedagang pasar terhadap prokes Covid-19 sudah cukup bagus.

“Justru pengunjung ini yang kadang tidak bisa menjaga jarak karena faktor lalu lintas dalam pasar yang padat,” ungkap Hadi.

Menyinggung kelangkaan gas bersubsidi ukuran 3 kilogram yang terjadi sebulan terakhir di Kabupaten Pati, Hadi menegaskan, bukan karena ada permainan nakal di tingkat distributor, agen maupun pangkalan gas.

“Kelangkaan gas terjadi sejak awal Agustus lalu dan saya sudah mengantisipasinya dengan menyurati Pertamina Jawa Tengah. Berdasarkan hitung – hitungan di tingkat distributor, agen hingga pangkalan, persediaan cukup bahkan lebih,” jelasnya.

Kelangkaan itu terjadi, sebut Hadi, karena ada aksi beli lebih banyak dari biasanya menjelang acara bersih desa pada sasi apit (bulan Jawa) dan musim orang punya gawe di sasi besar.

“Saya cek di agen, pasokan tetap. Cuma di pangkalan yang memang kewalahan,” tuturnya.

Terhadap kebutuhan gas bersubsidi tersebut, pihaknya selalu melakukan pengecekan setiap akhir tahun.

“Dan, tahun ini sudah ada penambahan sebanyak 3 ribu tabung ukuran 3 kilogram,” tandas Hadi.

Reporter : Usman
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *