Proyek Jembatan Bondoyudo, Lazim Disebut Proyek Siluman

LUMAJANG, Senin (11/2/2019) suaraindonesia-news.com – Proyek bangunan tanpa papan nama, yang lazim di sebut dengan istilah proyek siluman, bukanlah merupakan suatu pemandangan yang baru di wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Bahkan kerap kali pelaksana proyek suatu bangunan dalam melakukan kegiatan tanpa disertai memasang papan nama, dengan sengaja.

Padahal papan nama iti merupakan suatu bentuk informasi agar mudah diakses oleh masyarakat sebagai sarana untuk memperoleh informasi berdasarkan asas keterbukaan dan transparansi serta tanpa ada yang harus dirahasiakan, akan tetapi semua itu ternyata hanyalah sebuah wacana.

Seperti terlihat dalam melaksanakan kegiatan suatu proyek bangunan jembatan sungai Bondoyudo di Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang ini, telah menjadi sorotan publik, pasalnya, menurut keterangan salah seorang warga sekitar saat di temui awak media, mengaku bahwa kegiatan sudah berlangsung lebih dari satu bulan lebih, dan di lokasi kegiatan tersebut tidak ada papan nama proyek yang terpasang, serta dia tidak tahu siapa pihak yang menjadi pelaksana kegiatan tersebut.

“Tidak melakukan pemasangan papan nama proyek di lokasi kegiatan, itu sudah ada indikasi telah melakukan tindakan yang di duga kuat melanggar dengan adanya Undang – Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi kepada publik, yang mana perihal tersebut sudah jelas merupakan hak setiap warga negara untuk mendapat serta memperoleh informasi publik berdasarkan asas keterbukaan,” ungkap Dadang kepada media ini.

Tanpa dengan memasang papan nama proyek, menurutnya itu terkesan sudah mengabaikan Undang – Undang dan
merupakan tindakan yang sangat tidak layak, terlebih ketika melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari pemerintah pusat dalam bentuk APBN maupun dari pemerintah daerah dalam bentuk APBD.

“Dengan adanya suatu proyek bangunan yang dalam melaksanakan kegiatan tanpa memasang papan nama proyek, maka tidak menutup kemungkinan anggapan warga masyarakat telah terjadi penyimpangan dana untuk anggaran karena anggaran untuk memasang papan nama proyek selalu ada dalam kontrak manapun,” terang pria yang bergelut dalam bidang kontruksi bangunan ini.

Bangunan yang kini sudah dalam kondisi berhenti, prediksi Dadang itu karena menggunakan anggaran tahun 2018 lalu. Namun siapa yang melaksanakan pihaknya juga tidak mengetahuinya.

Maka dari, dia meminta kepada media massa untuk dapatnya ikut mengawasi kegiatan yang di laksanakan dengan dana yang bersumber dari APBN maupun dari APBD.

“Saya harapkan kepada pihak yang terkait, bahkan mediapun
untuk bisa lebih exstra ketat dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksana kegiatan proyek bangunan, agar hasil dari kegiatan tersebut bisa bertahan lebih lama ketika di manfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya lagi.

Sementara itu, pihak Bina Marga Jalan Nasional, ketika dimintai keterangan masih belum memberikan jawaban sampai berita ini ditayangkan.

“Kalau jbatan Bondoyudo itu memang dari Balai Besar Jalan Nasional, PT Wasis dari Jawa Tengah pelaksananya,” kata Staf Bina Marga Balai Besa Jalan Nasional, Sodikin singkat kepada media ini waktu itu.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publiser : Imam


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here