Proses Sidang Akan Dilanjutkan, Jika Mediasi Tak Temukan Kata Sepakat

oleh -27 views
Foto : Ilustrasi

LUMAJANG, Selasa (11/8/2020) suaraindonesia-news.com – Mediasi perkara kasus pencurian udang di tambak udang PT Bumi Subur, gagal menemui kata sepakat, antara pihak Tergugat (PT Bumi Subur Hendra Seteja dan Trisno) dan Penggugat (Amari), kemarin sore, di Pengadilan Negeri (PN) Lumajang.

Menurut kuasa hukum Penggugat (Amari), Mahmud SH, kepada media ini mengatakan, jika pada mediasi lanjutan masih tidak menemukan kata sepakat, maka akan berlanjut ke proses sidang di PN Lumajang.

Sampai saat ini, hingga hari Rabu (12/8) mendatang, kata Mahmud, pihaknya masih mengharapkan proses mediasi terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak.

“Namun mediasi kemarin siang gagal, karena pihak Tergugat (Direktur PT Bumi Subur) tidak hadir, dan mediasi ditunda hari Rabu (12/8) besuk,” kata Mahmud.

Inti dari mediasi tersebut, dikatakan Mahmud adalah kembalinya semua aset yang telah diserahkan kepada Tergugat (PT Bumi Subur) senilai Rp. 1,4 miliar, yang sudah dititipkan di Polres Lumajang.

“Kami berharap pihak Tergugat (Direktur PT Bumi Subur) bisa hadir dan terjadi kesepakatan,” ujarnya lagi.

Ditegaskan kali oleh Mahmud, jika pada hari Rabu (12/8) besuk tidak terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, maka perkara ini akan berlanjut sesuai proses hukum yang berlaku.

Permintaan proses ini dilanjutkan ke PN Lumajang, sesuai apa yang disampaikan Tergugat (Trisno) kepada media ini, usai mengikuti acara mediasi di PN Lumajang.

Dikatakan Tergugat bahwa perkara perdata tidak dapat diajukan ke pengadilan, karena perkara pidana masih belum diputuskan.

“Perkara ini murni pencurian, karena tidak ada saham sedikitpun dari Penggugat didalam tambak tersebut,” kata Tergugat.

Gugatan Penggugat diajukan atas adanya Restorative Justice ini, kata Tergugat merupakan bagian yang dilakukan oleh pihak Penggugat sendiri. Padahal kata Tergugat, yang menjadi Terlapor pada perkara pidana (pencurian udang) adalah Penggugat itu sendiri.

“Hal ini dilakukan sebuah pendekatan yang lebih menitik beratkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana Pemggugat sendiri,” ungkapnya lagi.

Proses dialog dan mediasi, kata Tergugat, adalah untuk menciptakan kesepakatan atas penyelesaian perkara pidana yang lebih dulu dilaporkan, agar hal itu menjadi adil dan seimbang bagi Penggugat.

“Mediasi bukan bagian restorative justice, namun upaya yang diatur Perma Nomot 1 Tahun 2016 yaitu bagian dari sidang awal sebelum lanjut ke persidangan. Lah kok saya sebagai mediasi waktu itu malah dilaporkan oleh Penggugat, aneh, lanjutkan saja perkara ini,” bebernya.

Sedangkan dari pihak Tergugat (Direktur PT Bumi Subur) masih belum bisa dikonfirmasi terkait hal itu.

Sementara itu, DPD LSM LIRA Kabupaten Lumajang, akan tetap satu komando menunggu perintah dari pimpinan yang lebih tinggi.

“Atas perkara ini, kami LSM LIRA masih menunggu petunjuk dari pusat dalam melangkah, tidak grusah grusuh,” ujar Bupati DPD LSM LIRA Kabupaten Lumajang, Angga Dhatu Nagara, SE kepada wartawan.

Sejak awal, kata Angga, pihaknya bukan membela para pihak. Pihaknya hanya mencari sebuah kebenaran fakta saja. Hal yang sama juga dilakukan pada perkara tambak PT LUIS di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *