Teknologi

Pemasaran Sangat Sulit, Petani Sigupai Abdya Mengeluh

×

Pemasaran Sangat Sulit, Petani Sigupai Abdya Mengeluh

Sebarkan artikel ini
Zul Ifan dan Maswadi
Kadistannak Abdya, Maswadi SP.MPd diabadikan bersama Zul Ilfan salah seorang petani padi Sigupai diareal perswahannya beberapa waktu lalu

Reporter : Nazli MD

Blangpidie-Abdya, Suara Indonesia-News.Com – Pasca panen raya di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) pada masa tanam I Gadu tahun 2015 lalu mengakibatkan sejumlah petani padi yang mengembangbiakan padi jenis Sigupai mengeluh. Pasalnya, panen Sigupai yang melimpah tidak ada penampungan yang memadai.

Salah seorang petani padi Sigupai, Zul Ifan kepada Suara Indonesia News menyebutkan, dirinya untuk masa tanam I gadu tahun lalu menanam padi Sigupai mencapai 1,5 hektar dengan perhasilan pertonnya mencapai 3 ton lebih.

“Hasil yang kami dapatkan mencapai 6 ton, tapi sayang penampungnya kurang,”imbuhnya.

Zul Ifan menyayangkan, hasil panen yang sangat melimpah tersebut terkesan tidak mendapatkan perhatian yang serius dari Pemerintah Kabupaten setempat. Menurutnya, pemerintah sebelum memaksa petani untuk memproduksi padi yang melimpah harus memikirkan terlebih dahulu pasca panen.

“Jika pasca panennya tidak mendapat perhatian yang sayang kan masyarakat juga,”tegasnya.

Zul Ifan melanjutkan, pemerintah dalam hal pasca panen harus peka, sehingga masyarakat tidak merasa dirugikan, walaupun bertani bagi sebagai masyarakat di kabupaten Abdya sudah merupakan pekerjaan yang rutin.

”Mau hasilnya sedikit atau banyak, yang namanya bersawah itu sudah kerjaan kami, jadi pemerintah jangan hanya memikirkan hasilnya saja, tetapi juga pasca panennya,”harapnya.

Sementara itu, Dedi Suherman ketua Komisi B DPRK Abdya terkait keluhan masyarakat petani padi Sigupai tersebut menanggapi, padi Sigupai yang merupakan ikon kabupaten Abdya tersebut harus terus dipelihara keberadaannya, untuk itu sudah sewajarnya pemrintah memikirkan hasil pasca panennya.

“Jikapun hasilnya yang melimpah tetapi penampunganya tidak ada, maka dikwatirkan petani enggan menanam Sigupai untuk tahun-tahun berikutnya,”sebut Dedi.

Diakui Dedi, padi Sigupai merupakan konsumsi bagi kalangan kelas menengah keatas, mengingat harga padi Sigupai tersebut tergolong mahal karena kualitas yang cukup memuaskan,”Pemerintah bisa mencari penampung nya direstoran ataupun warung-warung,”jelasnya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, pihaknya meminta kepada pemerintah melalui dinas terkait untuk menanggulangi padi Sigupai pasca panen itu, sehingga masyarakat tidak merasa dirugikan.

”Kita harapkan masalah ini dapat dipikirkan untuk masa tanam selanjutnya,”pungkasnya.

Terkait masalah itu, Kadistannak Abdya, Maswadi SP.Mpd mengakui, terkait dengan hasil padi Sigupai pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pemasaran disebabkan terkait dengan pemasaran hasil panen itu merupakan wewenang Dinas Perindagkop.

“Kami hanya mengatur bagaimana hasil itu banyak dengan memberikan teknis-teknis kepada masyarakat tani, kalau untuk pemasaran itukan urusannya Dinas Perindagkop,”terang Maswadi.