Teknologi

Nushubi Terong Jepang Tumbuh di Blora

213
×

Nushubi Terong Jepang Tumbuh di Blora

Sebarkan artikel ini
IMG 20160913 WA0015

Reporter: Lukman

Blora, Selasa 13/9/2016 (Suaraindonesia-news.com) – Nashubi atau terong Jepang tumbuh di Blora. Tepatnya di dukuh betekaan desa nglandeaan kecamatan kedungtuban .Petak persawahan totalnya 1 hektar ditanamani nashubi atau terong jepang  yang tidak berbeda dengan terong lainnya dalam spesies Solanum melongena. Walaupun ukuran buahnya bervariasi, bentuknya tetap bulat lonjong seperti telur, sesuai nama dalam bahasa Inggris tanaman terong disebut eggplant. Hanya terong ini berkuilt mulus mengkilap dengan warna khas, yakni ungu tua sampai kehitaman. Yang menarik warna yang tua sampai kehitaman ini “membungkus” seluruh bagian buah secara merata. Berbeda dengan terong-terong lokal yang berwarna hijau, kuning, krem atau bermotif batik tidak merata.

Bagi petani di daerah Blora dan sekitarnya nama nashubi atau terong Jepang tidak asing lagi. Pasalnya, petani di daerah ini belum mencoba melakukan penanaman nashubi sejak 1 bulan-an, tidak heran jika pada saat ini daerah blora tersebut menjadi salah satu sentra produksi nashubi untuk pasokan ke pasar ekspor. Tapi sayangnya bukan petani blora yang menanam dan berbudidaya terong jepang tersebut.

Disampaikan Supardi  asli purwodadi yang ditemani yatmin ini sedang melakukan perawatan terong jepang atau nashubi  milik Agus dari kecamatan Cepu. Sebagai pengusaha dengan menyewa tanah milik petani kedungtuban untuk di tanami terong jepang.

“Kami mulai tanam sampai sekarang 1 ½ bulan Berikut ini cara budidaya yang biasa mereka lakukan. Yakni Syarat Tumbuh seperti halnya terong lokal, terong Jepang juga dapat tumbuh di berbagai tempat, dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m dpl. Namun demikian, tanahnya harus memiliki cukup banyak kandungan bahan organik dan drainase baik, karena tanaman ini tidak tahan genangan air. Selain itu untuk mengoptimalkan pertumbuhannya sebaiknya pH tanah berkisar 5 – 6,” jelasnya.

menurutnya, pengolahan tanah lahan untuk penanaman nashubi  perlu diolah terlebih dahulu, paling tidak dua minggu sebelum ditanami. Setelah lahan dicangkul dan dibersihkan, campurkan tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Setelah itu dibuat bedengan-bedengan dengan panjang sesuai kondisi lahan. Jika ditanam pada musim kemarau, jarak tanam dapat dirapatkan dengan menanami dua baris tanaman pada setiap bedengan. Karena itu lebar bedengan pada musim kemarau bisa berukuran 1 – 1,2 meter. Sedangkan jika musim hujan, tanaman dijarangkan. Jadi bedengannya selebar 0,5 meter untuk satu baris tanaman. Hal ini dimaksudkan agar sinar matahari dapat lebih leluasa mencapai setiap bagian tanaman. Tinggi bedengan sekitar 40 – 50 cm, dan jarak antar-bedengan 30 – 40 cm yang akan berfungsi sebagai saluran drainase.

Setelah selesai bedengan dapat diberi mulsa jerami. Setelah itu dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak dalam barisan 60 – 70 cm. Jika bedengan dibuat untuk baris ganda, buatkan lubang antar barisan dengan jarak 70 – 80 cm. Setiap lubang dimasukan pupuk kandang sebanyak 0,5 – 1 kg agar tanah cukup bahan organik. Setelah itu bedengan siap ditanami.

“Penyiapan Bibit benih terong Jepang merupakan benih hibrida, oleh sebab itu petani biasanya mendapatkannya dari suplier benih atau toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lahan, benih tersebut sebaiknya disemai dulu. Ada beberapa cara penyemaian yang sering dilakukan petani. Ada yang menyemai di bedeng semai berukuran lebar 0,8 – 1,2 m dengan panjang sekitar 2 – 3 m. Ada pula yang menyemai dalam polibag berukuran 5 cm x 7 cm. Media semai yang sering dipakai berupa campuran pupuk kandang dan tanah dengan dosis 1 : 2. Dapat juga ditambahkan furadan dengan dosis secukupnya,” imbuhnya.

Sebelum disemai, sebaiknya benih dirandam dulu dalam air dan dibungkus semalaman dengan kain atau handuk. Setelah itu berulah benih disemai. Pesemaian harus diberi naungan dan disiram setiap hari. Biasanya benih akan berkecambah setelah seminggu. Pada umur 10 – 15 hari bibit disemprot pestisida dan ZPT untuk menghindari penyakit persemaian dan merangsang pertumbuhan. Setelah bibit berumur 20 hari atau berdaun 3 – 4 helai dengan tinggi sekitar 15 cm, bibit dapat dipindah ke lahan.

“Penanaman dan Pemeliharaan Pada saat bibit ditanam, setiap lubang diberi campuran urea, TSP, KCI, dan NPK dengan perbandingan 2 : 1 : 1 : 1. Dosisnya 50 – 100 gr/tanaman. Bibit ditanam secara tegak lurus, lalu disiram dengan air namun tidak sampai tergenang. Untuk menjaga tanaman tumbuh tegak, batang tanaman diikatkan pada ajir setinggi 1 – 1,2 m yang telah dipasang pada saat bibit ditanam. Sekitar 20 hari kemudian, tanaman diberi pupuk buatan lagi dengan jenis dan dosis yang sama. Lalu setelah 15 – 20 hari dipupuk lagi dengan pupuk yang sama. Setelah itu 20 hari sekali dipupuk,” Katanya.

Perawatan lain seperti penyiangan dan pendangiran dapat dilakukan bersamaan dengan pemupukan tanaman. Namun bila dirasa perlu, penyiangan dan pendangiran dapat dilakukan lebih sering.