Menunggu Kesaktian Capres Cawapres Pasca Debat Pilpres 2019

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pond-Pest Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Hiruk pikuk pesta demokrasi di Indonesia sungguh istimewa (minjem istilah Pah Dhe Bagus) untuk ungkapan yang dianggap super atau luar biasa, terutama menjelang pengumuman Capres dan Cawapres, banyak intrik dan isu-isu panas yang sudah digoreng sedemikan rupa oleh pelaku politik tingkat nasional dengan begitu apik nan indah para pencari berita mengolah bahasa sehingga menjadi trending internasional, Indonesia untuk hal-hal seperti itu tidak kalah sama Amerika ketika pencalonan Obama dan akhirnya dimenangkan oleh Obama, orang yang pernah tinggal di Indonesia dan menjadi presiden Adikuasa USA, Istimewa.

Gerindra dengan semangat mencalonkan Prabowo Subianto sebagai Capres dan Shandiaga Uno sebagai Cawapresnya, suatu keputuan hasil musyawarah Partai Gerindra dengan Koalisinya yang cukup rumit dan menegangkan dengan mengangkat perwakilan milenial, seorang Wakil Gubenur Jakarta, yang masih muda, sholeh, taat agamanya, cerdas orangnya, dan sehat badannya, segudang prestasi internasional sudah disandangnya, tepat rasanya Pak Prabowo Subianto mengangkat seorang capresnya yang energik, ahli ekonomi, segar gagasannya dialah Shandiaga Sholahuddin Uno.
Begitu juga PDIP, Partai penguasa pemenang pemilu sebelumnya tetap mengangkat petahan Bapak Joko Widodo sebagai capres, detik-detik menjelang pengumuman dan pendaftaran Capres-Cawapres ke KPU, banyak sandiwara yang dimainkan para elite PDIP dan koalisinya, sehingga menjadi buah bibir yang berkepanjangan, banyak dinamika-dinamika, banyak penyebar hoak-hoak berseliweran di sekeliling Bapak Jokowi dan Ibu Megawati selaku pemegang kekuasaan di PDIP.

Para pemburu berita dengan sabar selalu menunggu hal-hal yang baru untuk diangkat kepermukaan, mereka menyebar ke semua ini agar tidak ketinggalan sedetikpun moment sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Satu hari sebelum pengumuman Cawapres Bapak Jokowi santer berita-berita yang bikin masyarakat penasaran, siapa gerangan yang akan mendampingi pak jokowi, karena pak JK sudah sepuh dan sudah dua kali menjabat cawapres. Para pembisik jokowi mulai pasang badan, dengan memberikan sinyal-sinyal, nama-nama cawapres dengan insial, sungguh masyarakat semakin penasaran, istimewa waktu itu, para pendukung setia deg-deg kan,antara sesuai harapan dan tidak, maksudnya yang cocok, drama mulai diminkan oleh segelentir politikus, ada ketum PKB dan ada ketum PPP, kedua orang inilah yang banyak andilnya dalam melobi-lobi elite politik, karea semunya tergantung keputusan ibu Megawati selaku ketum PDIP. Lobi-lobi tingkat atas mulai dimainkkan, kartu joker mulai dikeluarkan.

Jam-berganti jam, menit berganti menit, detik berganti detik, yang semula santer diisukan orang mendampingi Pak Jokowi adalah ber-inisial M, banyak spekulasi dari masyrakat, M bisa Muhaimin, M bisa Mahfud MD dan M bisa Ma’ruf amin. Santer nama yang berpeluang waktu itu Mahfud MD, beliau asli Madura sudah merasakan pahit getirnya perpolitikan di Indonesia, banyak pengalaman yang beliau rasakan, baik di yudikatif, legislative maupun di eksekutif, beliau dari keluarga NU tulen,gelar akademis tertinggi sudah disandangnya, ahli hukum sederhana dan apa adanya, hanya beliau orang Indonesia yang merasakan trias politica yang ada di Indonesia terahir beliau sebagai ketua MK yang sudah banyak memutuskan/mengeluarkan sengketa hukum-hukum yangs terjadi di negara Indonesia.

Panggung Politik, tidak bisa di cerna dengan nalar, sudah pasti kabarnya pak Mahfud mewakili pak jokowi, tapi apa daya, baju sudah di ukur, tinggal menunggu pengumanan menit kemudian nama nya tidak muncul, itulah politik kata pak mahfud, beliau tidak kecewa, sebenarnya beliau sudah menduga apa yang akan terjadi, beliau tidak marah, beliau tegar dan biasa saja menanggapinya.

Inilah permainan licik para pelakon panggung sandiwara perpolitikan di Indonesia,sekarang kawan, menit kemudian lawan, dan akhirnya Prof. DR KH. Ma’ruf Amin terpilih menjadi Cawapres dari Capres bapak Joko Widodo, dengan begitu partai PDIP dan koalisinya segera mendaftarkan calonnya ke KPU pada tanggal 20 September 2018.

Dalam dunia perpolitikan ada yang senang ada yang kecewa, ada yang naik pentas ada yang jadi korban ke ganasan politik. Lawan jadi kawan, kawan jadi lawan, beginilah potret perpolitikan Indonesia, dan memakan korban, baik moril maupun materil.

Tahapan selanjutny debat publik, rakyat Indonesia antusias sekali menyambut acara debat ini, disamping bisa melihat langsung calon pemimpinnya, juga bisa menilai sejauh mana visi, misi dan wawasan cerdasnya dalam memaparkan janji-janji politiknya untuk rakyat dan untuk masa depan Indonesia. Dalam debat ini rakyat bisa menilai langsung cara berfikir pemimpinnya, bagaimana memulai bicara dari mana, tema apa yang dibahas, sesuaikah dengan keinginan KPU selaku penyelenggara acara, masalaah waktu juga harus benar-benar diperhatikan.

Dalam debat pertama rakyat bisa menilai mana yang lebih unggul antara paslon O1 atau paslon 02, selanjutnya dalam debat kedua pun masyarakat betul-betul diberikan tontonan yang menarik, para pendukung paslon masing-masing saling mmemberikan statemen-statemen yang menarik dan sangat hat-hati. Dunia maya ikut andil menyemarakkan dinamika pemilu tahun ini, sangat istimewa, luar biasa sekali dan sangat menarik, rakyak Indonesia semakin cerdas dalam menentukan pimpinannya.

Debat selanjutnya dilakukan oleh Cawapres masing-masing paslon, pada tanggal 17 Maret 2019 Live di stasiun swasta Indonesia, lagi-lagi rakyak indonesia di suguhi tontonan yang luar biasa, bagaimana ketika seorang cawapres pertama kali di Indonesia dari kalangan yang termasuk sepuh KH. Ma’ruf Amien Vs Sandiaga Uno sama-sama ahli ekonomi beradu gagasan yang satu baground ulama (pesantren) tapi sudah malang melintang dalam dunia perpolitikan di indonesai, dan dunia syariah, satunya lagi berlatar belakang pengusaha yang sudah sukses dibidangnya dengan segudang pengalaman dibidang ekonomi.

Lembaga–lembaga survei dalam polling-pollingnya baik lembaga survie resmi maupun abal-abal menjadi acuan walaupun hanya sekedar perkiraan tapi bisa dijadikan tolak ukur bagi tim sukses paslon. Klimaks dari itu semua, ada dalam diri rakyat masing-masing, siapa yang cocok monggo dipilih, akhir dari itu semua akan ditutup dengan kampanye terbuka pada tanggal 24 maret dan berakhir pada tanggal 13 April. Pamungkas dari semuanya pada tanggal 17 April 2019, kita tinggal tunggu kesaktian Pak Jokowi dan Kiyai Ma’ruf Amien selaku pemegang kartu 01 dan Pak Prabowo beserta wakilnya Pak Sandiaga Uno selaku pemegang kartu 02. Kepada pendukung paslon, istimewa untuk semuanya, NKRI harga mati!

Kraksaan 19 Maret 2019


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here