Kapolres Lumajang Tetapkan 12 Tersangka Kasus Q-Net

oleh
Kapolres saat memberikan rilis ke 12 tersangka dalam melakukan alur tindak kejahatannya.

LUMAJANG, Senin (4/11/2019) suaraindonesia-news.com – Hasil penggeledahan Tim Cobra Polres Lumajang, di kantor Amoeba Internasional Kediri dan kantor QN International Indonesia, di Jakarta yang di pimpin langsung oleh Katim Cobra AKP Hasran, dapat dibuktikan peran PT Amoeba Internasional dan PT. QN International Indonesia dalam melakukan penipuan investasi dan pendistribusian produk dengan skema piramida.

PT QNII sendiri adalah pemegang merek QNet di Indonesia.

Perusahaan ini diketahui telah menjalankan aksi penipuan investasinya selama kurang lebih 21 tahun di Indonesia. Diawali dengan Brand yang bernama Gold Quest. Saat Gold Quest tersandung masalah, mereka berganti baju menjadi Questnet yang ramai dipermasalahkan di media. Kemudian berganti baju lagi dengan nama Q-net.

Adapun sistem kerja ketiga brand tersebut tidak berbeda dan berada pada satu sistem yang sama, sehingga member-member Gold Quest maupun member Quest Net dapat terafiliasi dengan sistem yang ada di Q-net. Mereka menjalankan sistem binari dengan menjual produk yang harganya mahal dan diklaim memiliki manfaat. Padahal sebenarnya tidak memiliki manfaat.

Menurut Kapolres Lumajang, AKBP DR. Muhammad Arsal Sahban SH, SIK, MM, MH, menyatakan sudah bisa mengurai peran masing-masing perusahaan, baik PT. Amoeba maupun PT QN International Indonesia. Keduanya memiliki peran dalam melakukan penipuan investasi di Indonesia dan keduanya juga menjalankan sistem skema piramida yang dilarang oleh undang-undang.

“Dalam sebuah sistem skema piramida apabila diambil kedalaman 10 lapis, maka
yang diuntungkan hanya 13%, sedangkan yang dirugikan mencapai 87% dari seluruh member yang ikut”, ujarnya

Putra asli Kalosi, Kabupaten Enrekang, Makassar ini, menyampaikan, pihaknya telah menetapkan 12 tersangka dalam tindak pidana penipuan investasi dengan pasal penipuan, perdagangan tanpa ijin, mendistribusikan barang dengan skema piramida dan mengedarkan alat kesehatan tanpa ijin edar dari Kemenkes.

Dijelaskan, dari hasil penggeledahan, di kantor PT. QN International Indonesia, di Jakarta, membuktikan bahwa perusahaan ini bukanlah sebuah perusahaan bonafit yang menjalankan perusahaan dengan baik.

“Sebagai contoh, di website-nya dipampangkan banyak produk yang mereka jual, meliputi barang-barang lifestyle seperti jam tangan, perhiasan, alat-alat kesehatan dan kebugaran, alat-alat perawatan dan kecantikan, serta peralatan rumah yang jumlahnya ratusan item. Tapi kenyataannya saat kami geledah, ternyata hanya ada 12 item produk di dalam gudang PT. QN International Indonesia. Luas gudangnya, pun hanya 4×6 meter. Kalau kita sambungkan dengan kode etik perusahaan PT QN International Indonesia, perusahaan wajib mengirim barang yang dipesan customer hari itu juga. Atau paling lambat keesokan harinya sudah harus dikirim. Yang jadi pertanyaan kalau produk yang ditawarkan di website tidak ada di gudang. Bagaimana mereka mengirimkan prodak tersebut kepada customer dalam jangka waktu sesuai yang disebut kode etik”, ungkap alumnus S3 Universitas Padjajaran Bandung ini.

Bahkan rata-rata korban yang diperiksa, ungkap Arsal, mereka menerima barang setelah 5 bulan, bahkan ada yang tidak mendapatkan produknya sama sekali walau sudah bayar.

“Selain itu, ternyata PT QNII tidak memiliki kontrak hak distribusi eksklusif dari pemilik merk. Dimana seharusnya sebuah perusahaan MLM tidak boleh mengedarkan produk yang tidak memiliki kontrak distribusi eksklusif dari pemilik merk,” tukasnya.

Parahnya lagi, PT. QN International Indonesia menjalankan sebuah marketing plan yang tidak didaftarkan di Kementerian Perdagangan. Marketing plan yang didaftarkan oleh PT. QNII yaitu sistem pendistribusian dengan model matahari.

“Maksudnya, setiap member boleh memiliki ratusan, bahkan ribuan downliner, serta tidak ada pembatasan sama sekali sehingga membentuk seperti matahari. Tapi pada kenyataanya PT QN International Indonesia menjalankan sistem binary, dimana setiap member hanya boleh memiliki 2 down liner, yaitu 1 di kaki kanan dan 1 di kaki kiri. Ini jelas-jelas ingin mengelabui hukum, karena mereka memiliki izin resmi dari Kemendag dan APLI.

“Tapi mereka menjalankan sistem yang berbeda dengan yang dilaporkan ke Kemendag. Tapi izinnya itulah yang selalu ditampilkan ke publik kalau seakan-akan sistem mereka resmi dan terdaftar,” papar pria lulusan S1 UNS Solo dan lulusan S2 UGM Jogyakarta

Kata Arsal, ijin mereka selalu dijadikan tameng setiap adanya laporan dari masyarakat. PT. QN International Indonesia atau Qnet selalu mengatakan bahwa perusahaannya legal dan tidak bisa disentuh oleh hukum. Tapi akhirnya, dari hasil penyidikan praktek tipu-tipu yang mereka lakukan bisa dibongkar.

“Kalau ini dibiarkan maka korban orang kecil akan terus berjatuhan, karena sasaran mereka adalah orang-orang kecil yang mudah diperdaya sedemikian rupa. Para korbannya sampai menjual sawah, menjual sapi bahkan sampai hutang ke bank karena selalu ditanamkan doktrin UGD (Utang, Gadai, Dol). Para membernya diminta untuk mencari hutang kepada siapapun dan menjual barang apapun dengan dalih uang tersebut akan kembali berlipat ganda,” pungkas Arsal.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publiser : Marisa

One thought on “Kapolres Lumajang Tetapkan 12 Tersangka Kasus Q-Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *