Disoal Ada Pasien Meninggal, Kapus Rubaru Menolak Dimintai Keterangan

oleh
Puskesmas Kecamatan Rubaru yang diduga kurang baik pelayanannya.

SUMENEP, Rabu (26/2/2020) suaraindonesia-news.com – Fania Larasati (5) anak belia dari pasangan suami istri (Pasutri) Sunalis dan Niswati warga Dusun Pandi, Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menghembuskan nyawa terakhirnya saat dirawat di Puskesmas Kecamatan Rubaru, Rabu (26/2).

Puskesmas Kecamatan Rubaru menjadi sorotan publik, karena diduga tidak bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Moh. Niman Efendi, paman pasien menyampaikan, anak itu dibawa ke Puskesmas memang sudah dalam keadaan sakit, dan segera mendapatkan penanganan medis dari pihak perawat Puskesmas Rubaru.

“Anak itu dibawa ke Puskesmas sekitar pukul 04.00 Wib sampai mendapatkan penanganan dari Puskesmas,” pengakuan paman pasien kepada awak media.

Pertama masuk Puskesmas, pasien dalam keadaan membaik. Tambah Niman, sekira pukul 14.00 Wib pasien mengalami step dan mengakibatkan dirinya kejang-kejang.

“Dari sebelumnya keadaannya membaik, anak tersebut sempat bicara, menyanyi, dan mengaji, meskipun dalam kondisi badan panas. Setelah itu anak tersebut kejang-kejang, dalam pengobatan tradisional orang Madura penyakit itu biasanya ditaruh di tanah, diyakini akan sembuh,” jelasnya.

Kondisi pasien terlihat terkapar di tanah, diketahui salah seorang pihak Puskesmas disuruh untuk dibawa ke IGD, agar mendapat penanganan yang lebih serius.

“Ketika di IGD pasien disuntik oleh perawat puskesmas melalui selang infus, tak lama setelah infus diberi suntikan, kondisi pasien tiba-tiba kembali lemas,” paparnya.

Keluarga pasien tidak melihat perkembangan kesehatan anaknya yang dilakukan oleh petugas kesehatan puskesmas Rubaru. Pada akhirnya pihak keluarga memanggil tukang pijet, dalam istilah Bahasa Madura, “Tokang Ngala’ Saban”.

“Demikian pihak Puskesmas sempat mempersulit Tukang Pijet tersebut untuk masuk meskipun pada akhirnya juga diberi ijin,” kata Paman pasien.

Dengan demikian, nyawa bocah yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) itu tetap tidak tertolong.

“Tokang ngala’ Sabân bilang jika nyawa pasien diprediksi sudah tidak ada,” ungkapnya.

Kemudian pasien diperiksa kembali oleh pihak puskesman dan Fania dinyatakan meninggal sekitar pukul 16.30 Wib pada (25/2/2020).

Dari hal itu, pasien divonis meninggal, ayah dari pasien kecewa dengan pihak Puskesmas yang dinilai kurang baik dalam pelayanan. Bahkan pada saat itu petugas kesehatan tidak minta ijin terlebih dahulu saat mau memberikan obat yang disutikkan ke infus pasien.

Kemudian pihak Puskesmas seakan menyalahkan pihak keluarga karena mendatangkan tukang pijet yang mengindikasikan penyebab kematian pasien.

Keluarga pasien sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak Puskesmas dan harus ada sangsi terhadap pelayanan puskesmas itu.

Paman pasien bercerita, jarak waktu antara pasien kritis sampai tukang pijetnya datang sekitar 1 jam.

“Waktu itu ketika Fania lemas/kritis kita masih kebingungan mencari tukang pijet, jadi cukup lama,” katanya.

Setelah itu, dimintai keterangan dari pihak Puskesmas oleh awak media terkait kejadian tersebut tidak bersedia.

Waktu itu awak media ditemui oleh Kepala TU Puskesmas Rubaru Moh Ali, kebetulan Kepala Puskesmas (Kapus) nya ada diluar, ia menyampaikan dirinya tidak berhak memberi keterangan dan mengatakan kepala Puskesmas tidak ada di kantor.

“Maap saya tidak bisa,” ujarnya saat ditemui diruang TU.

Kepala Puskesmas Rubaru, Sulaiha Riningsi, saat dihubungi melalui via telpon, juga enggan memberikan penjelasan kepada awak media. Pihaknya mengatakan sedang berada di Polres Sumenep. “Tidak bisa,” ujarnya.

Selanjutnya, Kapus Rubaru, ketika diminta kepastian untuk bisa ditemui dan diwawancara. Pihaknya menjawab dengan tidak jelas.

“Saya tidak bisa memastikan (kapan bisa bertemu dan wawancara),” tegasnya.

Saat Kapus Rubaru disinggung terkait kasus itu, pihaknya mengelak untuk berkomentar.

“Saya tidak bisa berkomentar,” tandasnya sambil memutus sambungan telpon.

Reporter : Dayat
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *